Tausiyah Alhabib Jindan bin Nouvel
bin Jindan
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian 31, Allah SWT adalah Al Khalik (Sang Pencipta)
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian 31, Allah SWT adalah Al Khalik (Sang Pencipta)
Assalamualaikum,wr,wb.
Di dalam kitab risalatul jamiah wa
tatqiratun nafiah yang disusun oleh Al Arif Billah Al Alamah Al Imam Al Habib
Ahmad Bin Zein Bin Aluwih Al Habsy, Beliau disini berbicara tentang
permasalahan Tauhid,bahwasanya Allah SWT adalah Al Khalik (Sang Pencipta). Dan
Allah SWT mencipatakan segala sesuatu yang ada di langit dan ada di bumi. Allah
Ta’ala menciptakan langit.. Allah Ta’ala menciptakan bumi.. Allah Ta’ala
meciptakan kematian..Allah Ta’ala menciptakan kehidupan.. Allah Ta’ala
menciptakan ketaatan dan menciptakan kemaksiatan. Disebutkan dalam riwayat
bahwasanya Allah SWT ketika menciptakan Nabi Adam,dan Allah meletakkan
keturunan-2 Nabi Adam.. Seluruhnya itu dibentangkan dari umat Manusia yang
kelak akan lahir di muka bumi. Ketika malaikat melihat betapa banyaknya jumlah
mahluk2 tersebut Nabi Adam,maka Malaikat pun berkata “Ya Rabb,Dunia Tidak Akan
Cukup Untuk Mereka Semua”..Allah Berfirman “Sesungguhnya AKU Juga Menciptakan
Kematian,Sehingga Mereka AKU Matikan Silih Berganti” Jadi dunia cukup untuk
mereka. Kalau sekaligus Bumi tidak akan cukup untuk mereka, lantas Malaikat
berkata “Kalau Begitu Mereka Tidak Akan Menikmati Kehidupan?”
Maka Allah Ta’ala Mengatakan “AKU
Menciptakan Rencana,Cita-2 Sehingga Dengan Cita-2 Tersebut Mereka Lupa Dengan
Kematian”. Sesungguhnya jika seseorang apabila ia memakamkan saudaranya semua
sahabatnya berada di sekitar maka Malaikat akan berkata kepada mereka yang
hadir di pemakaman tersebut “Pulanglah Kalian Ke Dunia Kalian Ke Dalam
Kesibukan Kalian,Maka Mudah-2’an Allah Ta’ala Membuat Kalian Lupa Kan Mayat
Yang Kalian Makamkan”.
Al Habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad
mengatakan bahwa Malaikat tidak mendoakan hal-2 yang buruk,tetapi mendoakan
hal-2 yang baik. Seandainya ingatan akan kematian tersebut terus menghantui
manusia..maka kesibukan kehidupan duniawi akan hancur berantakan dan kacau
balau. Akan tetapi kadar yang sedikit akan ingatan tentang kematian tersebut
bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Allah Ta’ala menciptakan kematian dan
Allah juga menciptakan kehidupan. Yang mana kehidupan manusia tersebut
dikatakan bahwa manusia melalui 5 (lima) fase kehidupan.
Dimana fase yang pertama ketika
Allah menciptakan Nabi Adam dan meletakkan anak keturunan beliau di dalam Sulbi
Nabi Adam anak cucu keturunannnya hingga hari kiamat. Sehingga setiap individu
terlahir ke dunia sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Itu adalah
kehidupan kita yang pertama,dan kita semua yang ada disini sudah melalui fase
kehidupan tersebut.
Fase kehidupan kedua adalah ketika
dimulainya sesorang terlahir ke muka bumi,keluar dari perut ibunya sampai saat
kematian. Dan ketika dia meninggal dunia mulailah fase kehidupan yang ketiga
yaitu di Alam Barzah sana. Terus manusia di Alam Barzah tersebut hingga
ditiupkannya Sangkakala yang pertama yang mana ketika itu seluruh mahluk yang
pindah ke Alam Barzah ataupun yang masih di dunia dimatikan oleh Allah SWT.
Ditidaksadarkan sampai tiupan Sangkakala yang kedua, dan itu merupakan fase
kehidupan yang keempat. Yaitu yang disebut dengan Padang Mahsyar yang meliputi
segala kejadian yang ada di dalamnya seperti Mizan,Shiroot,Telaga Rasulullah
SAW..semuanya yang ada disitu sampai masuknya orang Surga ke dalam
Surga,masuknya orang Neraka ke dalam Neraka.
Dan disitulah masuknya fase
kehidupan yang terakhir,yaitu ketika masuknya penghuni Surga ke dalam Surga
sampai kekal abadi. Dan penghuni Neraka ke dalam Neraka sesuai perbedaan mereka
ada yang abadi dan ada yang sementara. Kemudian dalam kehidupan duniawi,Allah
Ta’ala menciptakan kehidupan duniawi ini seperti dikatakan oleh Imam Aj Jauzi
bahwa kehidupan manusia di dunia ini ada masa-2 fase-2 ketika dia masih masa
kanak-2. Mulai mereka dari lahir hingga dia Baligh,ketika Bulugh masuklah ia
fase kedua. Masa muda. Masa itu kira-2 umur 13-35 tahun,itu adalah masa-2 muda
masa-2 produktif.
Kemudian setelah itu masuk pada
kehidupan ketiga,yaitu masa yang sudah lebih matang. Ketika itu ditengah-2 usia
atau ditengah-2 umur,sekitar usia 35 sampai lebih kurang 50 tahun. Kemudian
setelah itu masuklah ia masa usia yang sudah lanjut, dari usia 50 sampai usia
70 tahun. Yaitu terjadi masa medan kematian yang umunya terjadi pada umur-2
tersebut. Rasulullah SAW mengatakan bahwa umur-2 umat-ku berada diantara umur
60 dan 70 tahun. Kemudian masuk fase yang terakhir,menurut ilmu Ibnu Jauzi yaitu
masa usia lanjut tua renta. Itu antara usia 70 tahun sampai akhir dia meninggal
wafat. Kemudian Allah Ta’ala menciptakan hal-2 tersebut, menciptakan manusia
dari satu tingkat ke tingkat yang lain hingga di wafatkan oleh SWT. Dan Allah
Ta’ala menciptakan ketaatan dan kemaksiatan. Salah satu doa dari salah seorang
Nabi Allah mengatakan “Tidaklah Taufik-ku Kecuali Dari Allah,Kepada-NYA’lah Aku
ber-Tawakkal”
At Taufik adalah kekuatan yang
diberikan Allah kepada Hamba sehingga Hamba tersebut melalukan ketaatan.
Seseorang bisa taat itu dengan izin Allah. Imam Haddad mengatakan dengan Taufik
dari Allah Ta’ala orang yang taat bisa menjadi taat. Kebalikan dari Taufik
adalah Khuzdlan yaitu Allah Ta’ala menciptakan kekuatan kepada Hamba-NYA untuk
melakukan kemaksiatan kepada Allah SWT. Dan begitu juga kemaksiatan diciptakan
oleh Allah Ta’ala di dalah firman Allah “Dan Allah Yang Menciptakan Kalian Dan
Amal Perbuatan Kalian”
Dengan itu sayyidina Ibrahim berkata
“Ketika Aku Sakit,Maka DIA-lah yang menyembuhkan,yang mematikanku kemudian
menghidupkanku” Dan Allah Ta’ala dengan izin-NYA menjadikan yang ini bermanfaat
yang ini berguna yang ini menyembuhkan. Akan tetapi pada hakikatnya yang
menyembuhkan adalah Allah. Allah yang memberikan manfaat dan Allah pula yang
memberikan bahaya. Dan segala seuatu yang ada di alam semesta semuan diciptakan
oleh Allah SWT yang baik ataupun yang tidak baik. Tidak ada yang terjadi di
langit dan di bumi di alam semesta ini terkecuali dengan izin Allah. Di dalam
ketentuan dari Allah SWT dan kekuasaan serta kehendak Allah Ta’ala. Allah yang
menciptakan seluruh mahluk berikut amalan-2 mereka. Allah SWT telah menentukan
Rizqi-2 setiap mahluk.
Di dalam Kitab Zubad disebutkan
bahwa Rizki itu adalah sesuatu yang membawa manfaat. Itu adalah Rizqi dari
Allah SWT, makanan, harta, jabatan, anak termasuk jodoh semua itu adalah Rizqi
dari Allah SWT. Termasuk hadir di Majelis adalah Rizqi dari Allah SWT. Karunia
dari Allah SWT. Guru kita Al Habib Anish Bin Aluwwy Al Habsyi itu ketika hadir
di Majelis seperti ini di Solo, ketika dia merasakan kenikmatan apa yang Beliau
dengar maka beliau berkata seperti Ayah dan Kakek beliau katakan “Segala Puji
Bagi Allah Yang Telah Memberikanku ‘Makanan’ Ini”. Rizqi Batin karena kehadiran
di Majelis ini. Dan Allah Ta’ala akan menjamin Rizqi seluruh mahluk yang ada di
muka bumi ini. Tidak ada mahluk satupun di muka bumi ini melainkan Allah Ta’ala
telah menjaminnya. Baik itu mahluk yang berjalan dengan 2 kaki,ataupun 4 kaki,
6 kaki, 1000 kaki ataupun yang tanpa kaki.. Semuanya telah dijamin oleh Allah
Rizqi-nya. Namun khusus bagi mereka yang gemar hadir dalam majelis ilmu,menimba
ilmu diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala memberikan jaminan khusu bagi mereka.
Artinya yang lain dijamin dengan Allah satu jaminan,sedangkan yang menuntut
ilmu oleh Allah dengan 2 jaminan. Diriwayatkan bahwa seorang sahabat mengeluh
kepada Rasulullah di dalam riwayat ini sahabat tersebut memiliki saudara yang
gemar hadir di Majelis Ilmu,kemudian dia mengeluh kepada Rasulullah agar
menyarankan saudaranya untuk menghabiskan waktunya mencari uang membantunya.
Maka Rasulullah berkata “Kamu mendapatkan Rizqi berkat Adikmu yang hadir di
Majelis”. Rizqi tersebut telah ditentukan oleh Allah SWT.
Telah dikatakan oleh Al Habib
Abdullah Bin Alwy Al Haddad “Allah Ta’ala Telah Menentukan Rizqi Seluruh Mahluk
Dan Dicantumkan Di Dalam Al-Qur’an Maka Kita Ridho Dengan Rizqi Yang Telah
Ditentukan Oleh Allah, Maka Itu Adalah Suatu Kewajiban”. Namun jika kita tidak
puas dengan apa yang Allah berikan maka itu adalah termasuk Tamak, Rakus dan
Serakah maka kita akan menjadi gila. Jangan terlalu menjadi beban bathin apa
yang telah ditentukan oleh Allah. Rizqi yang telah ditentukan oleh Allah untuk
orang lain tidak akan sampai ke hadapan kita. Rizqi yang buat kita pasti akan
datang walaupun telat, seseorang tidak akan meninggal dunia hingga sebutir nasi
yang merupakan Rizqi-nya telah berada di perutnya. Sebelum Rizqi orang itu
tuntas maka tidak akan tuntas umurnya. Kalau Rizqi-nya sudah habis, maka
habislah umurnya.
Tugas kita adalah menjalankan
kewajiban kita kepada Allah Ta’ala, dalam beribadah dan bertaqwa. Allah Ta’ala
pun telah mentakdirkan amalan manusia,rizqi manusia dan ajal mereka. Dan Allah
Ta’ala berfirman “Dan Apabila Telah Datang Ajal Manusia Maka Tidak Dapat
Ditunda Atau Dimajukan”. Allah SWT tidak akan menunda ajal seseorang jika telah
datang kepadanya. Dan semua itu tidak dapat ditambah dan ataupun dikurangi,
rizqi,ajal dan umur kita tidak dapat dikurangi. Semua itu telah ditentukan oleh
Allah SWT tatkala kita ada di dalam perut Ibu kita. Sebelum kita dilahirkan
dimuka bumi ini, semua itu telah tercatat di Lauful Mahfudz kemudian diberikan
catatan kepada Malaikat ketika kita berada di kandungan.
Rasulullah SAW bersabda “Seseorang
Itu Diawal Penciptaan-nya Di Dalam Perut Ibunya,40 Hari Sebagai Sekumpulan Air
Mani. Kemudian Setelah Itu Menjadi Gumpalan Darah, Setelah Itu Menjadi Gumpalan
Daging Dan Malaikat Tersebut Diutus Allah Menuliskan 4 Ketentuan. Umurnya
Dia,Rezekinya Dia,Amalnya Dia Dan Ajalnya Dia”. Apakah dia orang yang beruntung
ataupun sial telah ditentukan oleh Allah SWT. Sesungguhnya di dalam hal yang
Ghaib disembunyikan oleh Allah Ta’ala 5 hal, berapa banyak kenikmatan yang
dihasilkan dibalik terjadinya suatu musibah. Orang yang terlalu banyak
berencana akan kecewa, sebab takdir Allah SWT tidak dapat dibatasi oleh
pikiran. Apa yang ada di langit dan di bumi berdasarkan ketentuan Allah maka
serahkanlah urusan tersebut pada Qodho dan ketentuan-NYA. Namun takdir tersebut
misalkan seseorang melakukan kemaksiatan, mencuri atau bermaksiat kemudian
ketika ditanya ia mengatakan bahwa itu adalah Takdir atau ketentuan dari Allah
SWT. Maka ucapan orang tersebut lebih parah dan lebih besar dosanya
dibandingkan kemaksiatan yang ia perbuat. Sebab hal tersebut menunjukkan bahwa
keimanan orang tersebut cacat. Walaupun semuanya telah ditentukan oleh Allah
SWT, akan tetapi Allah Ta’ala memberikan pilihan kepada manusia untuk patuh
untuk taat dan menjauhi larangan-2 Allah. Sesungguhnya para Ulama Aulia Wali
Allah,walaupun mereka mengetahui segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah
namun mereka tetap menuntut diri mereka untuk melakukan ketaatan dan menjauhi
kemaksiatan sejauh-2’nya. Namun dalam urusan musibah barulah mereka mengatakan
bahwa ini adalah cobaan dari Allah Ta’ala.
Imam Ali Bin Abi Tholib mengatakan ketika beliau
ditanya mengenai Takdir, maka beliau mengatakan “Hal Itu Adalah Samudera Yang
Sangat Dalam,Maka Janganlah Kau Menyelam Ke Dalamnya”. Dan itu adalah jalan
yang gelap gulita,maka janganlah kau masuk ke dalamnya. Dan itu merupakan
rahasia Allah SWT maka janganlah engkau bongkar.


No comments :
Post a Comment