Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah
Bagian 31
Senin, 7 Oktober 2013
Senin, 7 Oktober 2013
Alhamdulillah segala puji bagi Allah
yang mengumpulkan hati dan menyiraminya dengan rahmat dan kasih sayang, yang
membuka hati dan mengisinya dengan cahaya iman lalu semakin terang hati
tersebut dengan dzikrullah ketika hati itu mengenal Allah dan semakin asyik
maka datang ia kepada mihrab dan kemudian menyembah Allah merasakan kelezatan
munajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala , ya Hayyu ya Qayyum sirami hati hati
kami di majelis malam hari ini dengan rahmatMu amin ya robbal ‘alamin.
Hadirin hadirat yang dimuliakan
Allah, telah kita baca tadi sabda sayyidina Muhammad salallahu ‘alaihi wa
sallam, hadits yang berkenaan dengan malam – malam mulia dan bulan mulia yang
mendatangi kita, bulan dzulhijjah dan awwal sepuluh malam pertama dibulan
dzulhijah, kemuliaannya disabdakan oleh Rasul dan diberitahukan kepada kita
dimalam hari ini dalam majelis yang mulia ini, agar bisa membangkitkan kita
punya sanubari untuk semangat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala,
disebutkan dalam hadits tersebut bahwa tidak ada hari hari yang lebih Allah
mencintai amal sholeh dilakukan pada hari hari tersebut melebihi hari hari ini
yaitu hari awal sepuluh di bulan dzulhijjah dan kita telah memasukinya,
Hari awal sepuluh bulan dzulhijjah
inipun terjadi berpapasan dengan peristiwa Nabiallah Musa as. Dizaman beliau,
menunjukan lebih dari kemuliaannya daripada bulan bulan yang lain dan hari hari
yang lain, didalam al-quran Allah berfirman mengenai peristiwa tersebut……. “dan
telah Kami janjikan Nabiallah Musa 30 malam,…..” ini peristiwa sebelum
Nabiallah Musa AS bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala dan Allah ta’ala
telah memberikanwahyu wahyu yang telah dijanjikanNya, sebelum bertemu dan
berbicara dengan Allah , Nabiallah musa diperintahkan Allah sebagaimana
disebutkan didalam tafsir Imam Baghawi,Allah perintahkan beliau untuk berpuasa
sebelum bertemu dengan Allah, maka berpuasalah Nabiallah Musa 30 hari dan itu
terjadi pada bulan dzulqo’dah yang telah kita lewati, selesai bulan Dzulqo’dah
30 hari beliau berpuasa, lalu beliau merasakan bau mulut yang keluar dari mulut
beliau karena berpuasa 30 hari lamanya kurang enak dicium baunya lalu beliau
bersiwak, maka Malaikatpun protes atas perbuatan Nabiallah Musa ketika
menghilangkan bau yang dicintai oleh merka, karena bau yang dikeluarkan dari
mulut orang yang berpuasa itu dicintai para malaikat bahkan dicintai Allah
subhanahu wata’ala karena lebih harum daripada bau minyak misk, maka ketika
Nabiallah Musa berpuasa 30 hari dan menghilangkan bau tersebut maka para
Malaikat bertanya mengapa engkau hilangkan bau itu?bau yang sangat wangi bagi
kami, maka Allah ta’ala pun menyuruh Nabiallah Musa menambahkan puasa sepuluh
hari setelah 30 hari selesai karena perbuatannya berusaha menghilangkan bau
mulut yang disebabkan berpuasa dengan siwak, maka ditambahlah 10 hari, “maka
sempurnalah perjalanannya 40 hari”, hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
sepuluh hari puasa tambahan yang dilakukan oleh Nabi Musa AS ini terjadi pada
sepuluh awal bulan dzulhijjah yang kita alami ini pada zaman beliau,
Apa yang dapat kita ambil dari
peristiwa Nabi Musa ketika menghilangkan bau mulut dengan siwak setelah 30 hari
berpuasa, ini mengajarkan bahwa ibadah itu kita kerjakan bukan dengan semaunya
kita, hadirin hadirat sekalian kita semua tau bahwa siwak memiliki fadhilah
besar disisi Allah subhanahu wa ta’ala, dan Rasul menyebutkan didalam hadits “
dua rakaat dengan siwak lebih baik drpd 70 rokaat tanpa siwak” dalam riwayat
lain ,”shalat dengan siwak lebih baik daripada 70 sholat tanpa siwak “.
Fadhilah siwak akan menganggkat pahala sholat yang kita kerjakan, satu banding
70, ketika diperintahkan oleh Allah dan Rasul maka jadi ibadah yang dicintai
Allah siwak ini, tapi tiba tiba ketika perbuatannya dikerjakan ditempat yang
tidak disukai Allah dan Rasul maka terbalik, sesuatu yang sama bendanya siwak
yang tadinya mendatangkan keridhoan Allah tiba tiba Allah tidak suka kalau
dilakukan bukan pada tempatnya, artinya ikuti ibadah sesuai perintah Allah dan RasulNya
bukan dengan hawa nafsu dan kehendak kita, hadirin hadirat yang dimuliakan
Allah, begitu pula seluruh ibadah, coba bayangkan jika seseorang ingin
melakukan sholat lima waktu sebelum waktunya, kira kira sah atau tidak
sholatnya? Tentu tidak sah, sholat dzhuhur jam 11, belum waktunya Allah belum
perintahkan padahal sholat bagus, 4 rakaat dikerjakan sesuai dengan rukun dan
syaratnya tapi ketika belum datang perintahnya maka sholat inipun bukannya
mendatangkan keridhoanNya akan tetapi sebaliknya, begitu pula siwak, maka
ibadahpun ternyata jika hanya mengikuti hawa nafsu dan mengikuti keinginan
nafsunya jauh dari perintah Allah subhanahu wa ta’ala tidak mendatangkan
keberkahan dari Allah dunia akherat.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, ketika
Rasul sabdakan dalam hadits ini, ini hari awal sepluh bulan dzulhijjah memiliki
fadhilah besar, amal sholeh yang dikerjakan tidak sebanding dengan amal sholeh
lainnya, sahabat dalam pandangan mereka bahwa amal sholeh yang paling besar
perjuangannya adalah jihad, maka mereka bertanya kepada Rasulullah, ya
Rasulullah jihad itu apakah tidak bisa menandingi amal sholeh yang dikerjakan
pada bulan ini?( Rasul menjawab) “ begitupun jihad di jalan Allah tidak dapat
menandingi pahala amal sholeh yang dikerjakan seseorang pada awal bulan ini,
kecuali jika ada seseorang yang keluar dijalan Allah membawa hartanya keluar
dengan dirinya hadir dalam peperangan,kemudian terbunuh di medan perang,” itu
baru amal sholeh yang bisa menandingi amal sholeh yang lain di bulan dzulhijjah.
Di dalam riwayat ibn ‘uwanah dari sayyidina Abdullah ibn Umar RA menambahkan
hadits ini,( walaupun dalam riwayat dh’if namun dalam kidah ilmu hadits dapat
digunakan dlm amal fadhilah) “ perbanyak didalam hari hari tersebut takbir dan
tahlil” untuk itu disunahkan jika kita melihat hewan hewan ternak sapi ataupun
kambing pada hari hari ini disunahkan bagi kita bertakbir, dimanapun kita
melihatnya dijalan ataupun ditempat yang lain maka kita bertakbir karena disitu
ada sunah Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam, lalu puasa pun disunnahkan
dalam tabahan hadits ini, puasa pada awal bulan dzulhijjah ingga tanggal 8
dzulhijjah yang disebut dengan hari tarwiyah disebutkan fadhilahnya puasa
sehari bagaikan berpuasa setahun, kita jika ingin berpuasa setahun penuh tidak
akan bisa dikarenakan ada hari hari yang diharamkan berpuasa oleh Allah seperti
idul fitri dan idul adha serta hari hari tasyrik, tapi bagi yang berpuasa pada
hari hari ini sama dengan berpuasa satu tahun itu adalah keberkahan bagi umat
Sayyidina Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam, maka hari hari ini
menggambarkan bahwa hari ini besar dan memiliki fadhilah disis Allah subhanahu
wa ta’ala dan jangan kita memandang hari ini sama dengan hari hari sebelum
datangnya bula dzulhijjah, bangkitkan dibulan bulan ini , dirumah rumah kita
dijalan jalan kita sunnah Sayyidina Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam
ta’zhim terhadap syiar syiar Allah sehingga terasa bahwa hari ini lain dengan
hari hari lainnya dan begitulah tuntunan iman yang diinginkan oleh Rasul kepada
umat Beliau salallahu ‘alaihi wa sallam.

No comments :
Post a Comment