Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah
Bagian 23
Makna Kalimat Syahadah “Laa ilaaha illaa Allah”
Senin, 8 Juli 2013
Makna Kalimat Syahadah “Laa ilaaha illaa Allah”
Senin, 8 Juli 2013
قال رسول
الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ رأى مِنْ أَمِيرِه شَيْئًا فَكَرِهَهُ
فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا
فَيَمُوْتُ إِلَّا مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً (صحيح البخاري ) عن النبي صلى الله
عليه وسلم : مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ
خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً ( صحيح البخاري )
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah
subhanahu wata’ala Yang Maha menyejukkan jiwa dan Maha menenangkan hamba dalam
kesedihannya, Yang Mampu menjadikan orang-orang yang tersiksa dapat tertawa,
orang-orang yang berada di penjara masih dapat tertawa, orang-orang fakir dan
miskin masih bisa seang dan bergembira, karena Sang Maha Penyejuk jiwa
memberikan kesejukan dalam jiwa-jiwa mereka yang dikehendakiNya agar hati
mereka menjadi tenang dan damai.
Dan jika Allah subhanahu wata’ala
mencabut kesejukan dari dalam hati seseorang maka sebanyak apapun harta yang ia
miliki atau semakin bertambah harta tersebut maka hatinya pun akan semakin
bingung dan resah, dan selalu merasa berada dalam keadaan yang sangat sempit
dan tersiksa, bahkan merasa lebih tersiksa daripada orang yang dipenjara, dan
sumber dari keadaan hati ini adalah Allah subhanahu wata’ala, semoga Allah
subhanahu wata’ala Yang Maha Penyejuk jiwa senantiasa menyejukkan jiwa kita
dalam hari-hari di usia kita yang singkat, dimana tidak kita ketahui masih tersisa
berapa lama lagi kehidupan kita di dunia ini, semoga usia kita dipanjangkan
dalam rahmat dan ‘afiyah serta dilimpahi dengan ketenangan jiwa, ketenangan
jiwa dengan mengingat Allah subhanahu wata’ala. Seorang professor dari
Universitas Harvard menemukan penemuan yang sangat menakjubkan, setelah ia
melakukan penelitian sekian tahun lamanya untuk metode ketenangan jiwa, ia
tidak menemukan cara yang lebih kuat untuk menenangkan hati kecuali mengingat
Sang Pencipta, Allah subhanahu wata’ala.
Penemuan yang menakjubkan ini
semakin memperkuat iman kita, dan karena hal ini bukanlah suatu yang baru bagi
umat Islam, telah dikabarkan oleh Allah subhanahu wata’ala 14 abad yang silam
dalam firmanNya :
الَّذِينَ
آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ
تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ( الرعد : 28 )
“Orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. ( QS. Ar Ra’d : 28 )
Siapa yang akan kita taati jika
bukan Yang menciptakan sanubari kita, kita tidaklah menciptakan sanubari kita
sendiri, namun Allah subhanahu wata’ala Yang menciptakannya, Yang Menciptakan
sanubari tersebut mengatakan bahwa ketenangan sanubari muncul dari mengingat
Allah subhanahu wata’ala . Adapun ucapan yang paling agung adalah ucapan “ Laa
ilaaha illaa Allah”, kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah. Oleh karena itu
Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam kitab Fath Al Bari syarah Shahih Al
Bukhari menjelaskan secara tegas sebab besarnya manfaat dari kalimat agung ini,
dimana tidak hanya diucapkan dengan lisan namun juga didalami maknanya dengan
keimanan, maka disunnahkan untuk mengulang-ulangnya dengan mendalami kedalaman
samudera maknanya, sehingga kedalaman kalimat agung tersebut terdapat
permulaannya namun tidak ada akhirnya. Dimana permulaannya adalah syahadah “
Laa ilaaha illaa Allah ”, yang kemudian iman meningkat dan hal ini merupakan
tanda-tanda kesejukan mengingat Allah telah terbit dalam sanubari, sehingga
keinginan-keinginan hina di dalam sanubari berjatuhan dan berganti dengan
tumbuhnya keinginan-keinginan mulia di dalam sanubari karena cahaya nama Allah
yang ada di dalam jiwa, mulailah terbit keinginan untuk bersujud, terbit
keinginan untuk berdoa, muncul keinginan untuk meninggalkan kehinaan, muncul
keinginan untuk berbuat keluhuran, kedamaian, dan kesejahteraan, muncul
keinginan untuk berbuat baik bagi sesama, kesucian-kesucian itu terbit karena
ketenangan jiwa yang berawal dari ucapan “Laa ilaaha illaa Allah”, tangga-tangga
keluhuran inilah yang layak untuk kita jadikan semakin tinggi.
Hadirin yang dimuliakan Allah
Pembahasan dalam kitab Ar Risaalah Al Jaami’ah kita masih membahas kalimat
syahadah “Laa ilaaha illaa Allah”. Dan hadits yang telah kita baca berkaitan
erat dengan wafat dalam puncak keluhuran (husnul khatimah) atau wafat dalam
kehinaan, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ رأى
مِنْ أَمِيرِه شَيْئًا فَكَرِهَهُ فَلْيَصْبِرْ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ
يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَيَمُوْتُ إِلَّا مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang melihat suatu hal
yang ia tidak sukai dari pemimpinnya (muslim) maka bersabarlah, karena tidaklah
seseorang yang berpisah dari kelompok (muslimin) satu jengkal lalu ia
meninggal, kecuali ia meninggal dalam kematian jahiliyyah”
Sebagaimana orang yang telah
melakukan shalat tarawih di malam hari ini dan esok mulai berpuasa, karena
berniat memisahkan diri dari kelompok muslimin dan pemerintahan, jika ia wafat
dalam keadaan tersebut dan belum bertobat maka ia wafat dalam keadaan suul
khatimah.
Kemudian hadits yang kedua
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ
كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ
السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“ Barangsiapa yang membenci sesuatu
dari pemimpinnya (yg muslim) maka bersabarlah, karena sesungguhnya orang yang
keluar dari (ketaatan) kepada pemimpin sejengkal, ia meninggal dalam kematian
jahiliyyah”
Hal ini merupakan salah satu dari
makna kalimat “Laa ilaaha illaa Allah”, agar supaya kita wafat dalam syahadah
“Laa ilaaha illaa Allah”, bukan wafat dalam mengikuti hawa nafsu dan membenci
pemerintah, bukan berarti saya adalah antek pemerintah atau lainnya tetapi yang
saya sampaikan adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan
dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa suatu waktu Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam berjalan keluar dengan sorban di kepala yang bertetesan minyak
dari obat-obatan, kemudian beliau berkata dan memanggil kaum muslimin dan
bersabda : “Jika ada diantara kalian seorang pemimpin yang berbuat kebenaran
dalam suatu kejadian, kemudian ia berbuat kesalahan dalam kejadian yang
lainnya, maka terimalah kebenaran yang diperbuatnya dan maafkanlah
kesalahannya, dan hendaklah orang tersebut bersabar hingga berjumpa denganku di
Haudh (telaga)”.
Oleh sebab itu ketika Al Imam Al
Bukhari dikeluarkan dan diusir dari Khurasan karena difitnah, dan para muridnya
memintanya untuk menyangkal dan menjawab fitnah tersebut, namun Al Imam Al
Bukhari berkata dengan menukil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Setelah aku wafat nanti akan timbul permasalahan dan perpecahan, maka
hendaknya kalian memilih persatuan dan janganlah saling membenci dan berpecah
belah dan hendaklah kalian bersabar sampai berjumpa denganku di telaga
(Haudh)”.
Mungkin diantara kita ada yang
berkata : “Jadi kalau ada pemimpin yang koruptor, kita diam saja?!”. Selayaknya
kita melihat diri keadaan diri kita sendiri sebelum melihat keadaan orang lain
dimana kita semua adalah para koruptor dihadapan Allah subhanahu wata’ala,
berapa banyak nafas yang Allah pinjamkan kepada kita namun kita pergunakan
untuk berbuat dosa, itulah diantara perbuatan korupsi kita. Maka janganlah
terburu-buru untuk menghakimi orang lain, barangkali di akhir kehidupan mereka
bertobat dan wafat dalam keadaan husnul khatimah, dan mengapa kita harus sibuk
mengurusi aib orang lain sedangkan aib diri kita sendiri masih sangat banyak
dan belum kita benahi.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata
: “ Ingatlah aib-aib dirimu sebelum mengingat aib orang lain, barangkali engkau
pernah berbuat aib yang lebih besar dari aib orang lain, atau mungkin aib orang
tersebut telah dimaafkan oleh Allah subhanahu wata’ala, namun belum memaafkan
aibmu”. Maka permasalahan para koruptor biarlah pihak yang berwenang yang
mengadilinya dan mereka pun kelak akan bertanggung jawab dihadapan Allah
subhanahu wata’ala, kelak aka nada siding akbar dan yang menjadi saksi adalah
sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka janganlah kita terlalu
bingung atau repot dengan hal-hal yang seperti demikian, lebih baik kita
memikirkan bagaimana menjadikan hati atau sanubari kita tenang untuk beriman
kepada Allah subhanahu wata’ala. Kita bersyukur negeri kita dipimpin oleh
seorang muslim, para menteri dan pejabat-pejabatanya adalah mayoritas beragama
Islam, dan negara kita adalah negara muslimin terbesar di dunia. Oleh sebab itu
saya menghimbau kepada ormas-ormas Islam yang telah memahami atau telah sampai
kepada mereka kabar ini, dimana jika memisahkan diri dari kelompok muslimin
maka akan terancam wafat dalam keadaan suul khatimah, wafat dalam kekufuran
wal’iyadzu billah. Sungguh Allah subhanahu wata’ala Maha Mampu mencabut iman
seseorang di saat ia dalam keadaan sakaratul maut, dimana ketika itu ia tidak
lagi mampu mengucap nama Allah subhanahu wata’ala, jika demikian hal nya maka
celakalah masa depannya yang abadi.
Berikut akan saya bacakan jawaban
dari guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Salim Al Hafizh atas pertanyaan
yang sampai kepada beliau :
الحمد لله
رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد وآله وصحبه
أجمعين أما بعد فقد قال الله تعالى (فسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون). إلى
شعبة الفتوى بدار المصطفى بتريم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ثلاث سنوات مضت نصلي
عيد الأضحى مع المملكة العربية السعودية بأمر من الدولة القمر المتحدة والحجة ذلك
أن يوم عرفة فاليوم الثاني يكون عيد سواء تقدمنا في رؤية الهلال أم لا وعلى هذا
نجد المواطنين من يتبع القرار ومنهم من يخالف فعيد الثاني بعد السعودية إلى اليوم
لذلك نريد توضيح هذه المسألة لأنها أصبحت عائقة وصلى الله على سيدنا محمد وآله
وصحبه وسلم السائل / قصي بن عبدالله / خطيب الجامع بمسامود في جزيرة هنزوان الحمد
لله وبعد فقد قدِم إلينا سؤال من الشيخ قصي بن عبدالله / خطيب الجامع بمسامود في
جزيرة هنزوان مفاده أن لهم ثلاث سنوات يصلون عيد الأضحى تبعا للسعودية بأمر من
الدولة القمرية نظرا للوقوف بعرفات سواء تقدموا في رؤية الهلال أم لا ؟ وانقسم
المواطنون إلى قسمين قسم يتابع السعودية وقسم يخالفهم... فالجواب على ذلك : فإن
المقرر في مذهب الإمام الشافعي ومالك فيما روى عنه المدنيون لكل قطر رؤيته, فإذا
رؤي الهلال في بلد وثبت عند الحاكم لزم أهل البلد الصوم وإذا غُمّ عليهم أكملوا
العدة ثلاثين, ومثل ذلك شهر ذي الحجة وبقية الأشهر, ولا يتغير الحكم فيما لو كانوا
متقدمين على يوم الوقوف بعرفة أو متأخرين عنه لما سبق أن لكل قطر رؤيته, وذهب
الإمام أبو حنيفة وأحمد إلى تعميم الحكم بالرؤية في بلد إلى سائر البلدان, أما
البلدة التي يرى فيها الهلال ويثبت عند الحاكم فيترتب على ثبوته آثاره على أهلها
قطعا بلا خلاف . ولا حرج في الأخذ بأي المذهبين لكن يجب التنبه أنه في بعض البلاد
تقبل الشهادة بالرؤية في حالة استحالة رؤية الهلال بقول عدد التواتر من أهل
الاختصاص والحساب القطعي مكتفين بوجود الهلال في الأفق ولا يخفى ما في ذلك من
تساهل متكرر, ولو رُوعِيّ في ثبوت الرؤية إمكانية رؤية الهلال عند أهل الحساب لكان
في الأمر سعة، لأنه أضبط وأقرب إلى الحقيقة والواقع والله أعلم . صادر عن شعبة
الفتاوى بدار المصطفى بتريم للدراسات الإسلامية 18/ذو القعدة/1433هـ
Terjemahan :
بسم الله
الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين
سيدنا محمد وآله وصحبه أجمعين أما بعد :
Allah subhanahu wata’ala telah berfirman
:
فَاسْأَلُوا
أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang
mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui ”
Kepada divisi fatwa Dar Al Musthafa
di Tarim
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh
Dalam tiga tahun terakhir kami melakukan shalat Idul Adha bersamaan
dengan Kerajaan Saudi Arabia karena perintah dari Pemerintahan Komoro, yang
berlandaskan dengan wuquf di Arafah sehingga hari kedua setelah wuquf adalah
hari Idul Adha, baik kita telah melihat hilal ataupun tidak, dari sini kami
mendapati penduduk di wilayah kami hingga saat ini diantara mereka ada yang
mengikuti keputusan pemerintah dan ada juga yang menyalahinya, yaitu dengan
hari raya sehari setelah KSA. Oleh karena itu kami meminta penjelasan akan hal
ini yang telah menjadi persoalan rumit di kalangan kami.
وصلى الله
على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم
Penanya : Qushai bin Abdillah (
Khatib Masjid di Mutsamudu Kepulauan Anjouan)
Segala puji bagi Allah, waba’du :
Telah disampaikan kepada kami pertanyaan dari saudara Qushai bin Abdillah, Khatib Masjid di Mutsamudu Kepulauan Anjouan, dimana telah tiga tahun berlalu mereka melakukan shalat Idul Adha dengan mengikuti KSA (Kerajaan Saudi Arabia) atas perintah dan keputusan dari Pemerintahan Komoro, yang berdasarkan wuquf di Arafah baik mereka telah melihat hilal atau pun tidak, sehingga penduduk terbagi menjadi dua bagian, sebagian mengikuti keputusan pemerintah yaitu mengikuti KSA dan sebagian lain menyalahinya.
Telah disampaikan kepada kami pertanyaan dari saudara Qushai bin Abdillah, Khatib Masjid di Mutsamudu Kepulauan Anjouan, dimana telah tiga tahun berlalu mereka melakukan shalat Idul Adha dengan mengikuti KSA (Kerajaan Saudi Arabia) atas perintah dan keputusan dari Pemerintahan Komoro, yang berdasarkan wuquf di Arafah baik mereka telah melihat hilal atau pun tidak, sehingga penduduk terbagi menjadi dua bagian, sebagian mengikuti keputusan pemerintah yaitu mengikuti KSA dan sebagian lain menyalahinya.
Adapun jawaban dari perihal tersebut
bahwa yang ditetapkan dalam madzhab Al Imam As Syafi’i dan Al Imam Malik yang
diriwayatkan oleh penduduk Madinah yaitu bagi setiap negara/wilayah tergantung
penglihatannya terhadap hilal, jika hilal telah terlihat di suatu
negara/wilayah dan hal itu telah ditetapkan oleh hakim/imam/pemimpin di wilayah
tersebut maka penduduk wilayah tersebut wajib berpuasa, dan apabila di wilayah
tersebut hilal tidak tampak/terlihat oleh mereka maka mereka menyempurnakan
hitungan bulan menjadi 30 hari, begitu juga halnya dengan bulan Dzulhijjah dan
bulan-bulan lainnya. Maka hukum tidak berubah dalam keadaan jika mereka
mendahului wuquf di Arafah ataupun mengakhirkannya, karena bagi setiap
wilayah/negara tergantung pada penglihatan hilal. Sedangkan Al Imam Ahmad dan
Al Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum ru’yah hilal di suatu negara atau
wilayah supaya disebarkan ke wilayah-wilayah yang lain, adapun wilayah yang
padanya hilal telah terlihat dan hal tersebut telah ditetapkan oleh hakim/imam
di wilayah itu maka keputusan imam tersebut menjadi suatu kewajiban yang harus
dilaksanakan oleh penduduk wilayah tersebut, tanpa ada perselisihan dalam hal
ini.
Tidak apa-apa untuk mengambil
pendapat yang mana dari kedua madzhab tersebut ( Madzhab Syafi’i dan Malik atau
Madzhab Hanbali dan Hanafi), tetapi perlu diperhatikan bahwa dalam keadaan
hilal tidak mungkin terlihat, terdapat beberapa negara/wilayah yang kesaksian
ru’yah hilal dapat diterima, berdasarkan perkataan dari kalangan para ahli
astronomi (yang mencapai jumlah tawatur) yang menetapkan adanya hilal di ufuk
dan hal tersebut tidak disembunyikan sebab kelalaian yang berulang, dan jika
dicermati dalam penetapan ru’yah adanya kemungkinan ru’yah hilal menurut ahli
astronomi maka pastilah ada keluasan dalam perkara ini, karena yang demikian
lebih sesuai dan lebih dekat dengan kebenaran dan kenyataan, Allahu a’lam.
Dikeluarkan oleh divisi fatwa Dar Al Musthafa
Tarim, 8 Dzulqa’dah 1433
Tarim, 8 Dzulqa’dah 1433
Maka kesaksian hilal harus dilakukan
oleh orang banyak dan mencapai jumlah tawatur, dan jika yang melihat hilal
hanya satu orang maka kesaksiannya tertolak, dan tidak ada satu madzhab pun
yang mengatakan bahwa hilal boleh dilihat oleh satu orang, dan jika hanya satu
orang yang melihat maka dia sendiri yang harus berpuasa sedangkan orang lain
tidak boleh mengikutinya. Hal ini harus kita fahami, dan saya tidak takut
menyampaikan hal ini karena ini adalah suatu kebenaran meskipun ormas-ormas
lain tidak menyukainya, semua yang berpuasa dengan keluar dari keputusan sabda
nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh madzhab maka puasanya
bathil. Maka saya perlu berbicara tegas, sampaikan kepada semua keluarga dan
kerabat kalian untuk tidak berpuasa besok, sebagaimana yang telah dijawab oleh
guru mulia dan dewan fatwa di Tarim Hadramaut.
Dalam hadits tadi disebutkan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah umma Islam untuk tidak
keluar dari pemerintah, mengapa demikian?, karena jika penguasa muslim ini
diganggu maka ia akan menghukum rakyatnya, sehingga terjadilah pertikaian
antara pemimpin muslim dengan rakyatnya, maka musuh Islam yang merasa senang
akan hal tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan
persatuan diantara para pemimpin dan rakyat, adapun jika pemimpin melakukan
kesalahan maka kelak di hari kiamat ia akan menghadapi sidang akbar dihadapan
Allah subhanahu wata’ala. Dan hal ini saya sampaikan agar saudara-saudari kita
tidak terjebak ke dalam ketidaktahuan sehingga keluar dari jalan yang telah
ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita sesama umat Islam
jika ada perbedaan pendapat maka hal itu jangan dijadikan sebab permusuhan,
namun kita ingin membenahi keadaan kita, kita ingin membenahi iman kita,
membenahi puasa kita mana puasa yang benar dan sah, dan tadi telah diumumkan
oleh Menteri Agama, pemimpin kita dan jamaah muslimin, dimana mayoritas umat
Islam mulai melaksanakan puasa pada hari Rabu. Semoga Allah subhanahu wata’ala
melimpahkan hidayah dan mempersatukan kaum muslimin, dan semoga Allah subhanahu
wata’ala menjadikan Ramadhan kita sempurna, besok malam akan masuk malam-malam
mulia, semoga kita diberi kekuatan dan taufiq untuk bisa melakukan shalat
tarawih 20 rakaat dalam setiap malamnya. Perlu saya sampaikan perihal shalat
tarawih, bahwa shalat tarawih 13 rakaat tidak ada satu madzhab pun yang
melakukan hal tersebut, dan tidak ada satu madzhab pun yang melakukan shalat
tarawih kurang dari 20 rakaat, bahkan di masjid haram Makkah dan Madinah mereka
melakukan shalat tarawih 20 rakaat, hanya madzhab Al Imam Malik yang melakukan
shalat tarawih sebanyak 40 rakaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda :
مَنْ قَامَ
رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“ Barangsiapa yang bangun (melakukan
shalat malam) di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan ridha Allah
maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”
Seharusnya jumlah shalat tarawih
diperbanyak agar mendapatkan bagian dari hadits tersebut, bukan justru
dikurangi sebagaimana yang diperbuat oleh sebagian muslimin di zaman ini. Dan
hal penting bagi kita adalah janganlah kita berpecah belah, karena jika sudah
mulai banyak perpecahan dan perselisihan pendapat maka kehancuaran akan datang
kepada umat Islam, namun jika banyak yang mengalah maka Islam akan semakin
meluas. Disebutkan dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Ali bin Abi
Thalib ketika dihujat oleh khawarij beliau berkata : “Putuskanlah apa yang
hendak kalian putuskan, karena aku membenci perpecahan dan perbedaan pendapat,
aku menginginkan persatuan dan jika tidak maka aku lebih memilih untuk wafat
menyusul para sahabatku”.
Dan itulah awal sejarah demo yang
banyak terjadi di zaman sekarang ini, maka janganlah menjadi pengikut ajaran
orang-orang yang mendemo sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kemudian sayyidina Hasan
bin Ali bin Abi Thalib Kw ketika menerima khilafah setelah ayahnya wafat, maka
khilafah pun ia serahkan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan demi menghindari
perpecahan diantara kaum muslimin, maka dalam hal ini sayyidina Hasan lebih
memilih untuk mengalah dan menyerahkan kekuasaan demi menjaga agar tidak
terjadi pertumpahan darah diantara kaum muslimin. Kemudian sayyidina Husain bin
Ali yang datang untuk memenuhi undangan namun setelah beliau tiba di Karbala,
disampaikan kepada Yazid bin Mu’awiyah bahwa sayyidina Hasan datang untuk berperang
dan merebut kepemimpinan, sungguh sebuah kedustaan yang nyata, karena jika
sayyidina Husain datang untuk berperang atau untuk merebut kepemimpinan maka
beliau tidak akan membawa serta istri dan anak-anaknya serta keluarganya
bersamanya, sehingga sayyidina Husain bin Abi Thalib dibantai di padang
Karbala. Dan sampai pada keturunannya Al Imam Ahmad Al Muhajir, dimana ketika
di Baghdad banyak terjadi khilaf, pecah belah, dan perebutan kekuasaan, maka Al
Imam Ahmad bin Isa Al Muhajir bersama keluarganya pindah ke Tarim Hadramaut,
karena di daerah tersebut ada penguasa Tarim seorang muslim yang membela
sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dan banyak orang yang mengecam Al Imam Ahmad Al
Muhajir, sehingga ada seorang alim yang bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dan ia berkata : “Wahai Rasulullah Al Imam Ahmad telah meninggalkan
kami dan pindah ke Hadramaut, sedangkan kami berada dalam pertikaian dan
perselisihan”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Aku
gembira dengan apa yang telah diperbuat oleh Ahmad bin Isa”. Sehingga Al Imam
Ahmad menetap di Hadramaut dan terus memiliki keturunan hingga sampai pada masa
Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi, beliau mematahkan pedangnya
dihadapan keluarga dan para sahabatnya seraya berkata : “ Keluargaku dan para
sahabatku serta orang-orang yang mengikutiku, sejak saat ini aku tidak lagi
akan berdakwah dengan kekerasan”, oleh sebab itu jalan dakwah para habaib
adalah dengan kedamaian. Sehingga dari Hadramaut muncullah para penyeru ke jalan
Islam menuju Gujarat yang akhirnya sampai ke pulau Jawa, mereka datang dengan
jalan kedamaian seperti yang dicontohkan oleh para leluhurnya.
Dan kita kenal 9 orang yang berhasil
menyebarkan Islam di Nusantara ini, mereka tidak memiliki pasukan, senjata atau
kekuatan lainnya namun mereka dapat menyebarkan Islam di segala penjuru
nusantara sehingga penduduk Indonesia mengenal kalimat “Laa ilaaha illaa
Allah”, dan jadilah Indonesia ini negara muslimin terbesar di dunia, karena
kedamaian yang disebarkan melalui para penyebar dakwah di tanah air. Agama
Islam adalah agama kedamaian, dan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
adalah manusia yang paling menyukai kedamaian dan paling berlemah lembut dari
segala makhluk Allah subhanahu wata’ala, bahkan lebih lembut dari malaikat.
Ketika malaikat Jibril melihat nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam
disiksa dan dianiaya oleh penduduk Thaif, dengan melempari kaki beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam dengan batu, ketika terjatuh beliau disuruh untuk
berdiri dan kemudian kembali dilempari dengan batu, namun demikian beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :
اللّهُمَّ
إِنِّى أَشْكُوْ إِلَيْكَ ضَعْفَ قُوَّتِيْ وَقِلَّةِ حِيْلَتِيْ وَهَوَانِيْ
عَلَى النَّاسِ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمْينَ أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
وَأَنْتَ رَبِّيْ إِلَى مَنْ تَكِلُنِيْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ غَضَبٌ عَلَيَّ
فَلاَ أُ بَالِي
“ Ya Allah sesungguhnya aku
mengadukan kepadaMu kelemahan upayaku, dan kurangnya usahaku, dan hinanya aku
di kalangan manusia, wahai Yang Maha mengasihi Engkaulah Tuhan golongan yang
lemah , dan Engkaulah Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan aku, jika Engkau
tidak murka kepadaku maka aku tidak peduli”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam berdoa:
اَللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
“ Wahai Allah berilah petunjuk
kepada kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui”
Penduduk Thaif yang menyakiti dan
menyiksanya justru beliau anggap sebagai kaum beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam dan didoakan agar diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala, demikianlah
kelemubutan makhluk yang paling berlemah lembut sehingga malaikat Jibril datang
dan berkata : “Wahai Rasulullah, izinkanalah malaikat penjaga gunung itu
mengangkat gunung tersebut dan menjatuhkannya di atas Thaif”, namun Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Jangan, biarkan mereka hidup jika bukan
mereka yang mendapat hidayah dan beriman, barangkali keteurunan mereka kelak
yang akan beriman”, demikianlah indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam.
Selanjutnya kita bermunaajat dan
berdoa semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni dosa-dosa kita zhahir dan
bathin, dan semoga Allah subhanahu wata’ala menuntun kita pada masa depan yang
baik, dan menjadikan kota dan wilayah kita menjadi wilayah yang aman dan damai,
bangsa kita menjadi bangsa yang damai dan sejahtera, dan tidak terjadi
perpecahan diantara kaum muslimin, tidak juga terjadi pertikaian diantara umat
beragama, dan saling peduli diantara satu sama lain terlebih kaum muslimin agar
peduli kepada yang belum beriman, dan mereka yang terjebak dalam kerusakan
aqidah, terjebak dalam perbuatan dosa, perzinaan, perjudian, narkotika dan
lainnya semoga segera dilimpahi taufiq dan hidayah oleh Allah subhanahu
wata’ala, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا
جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا
الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ
إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ
اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ
وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا
نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ




No comments :
Post a Comment