Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah
Bagian 22
Makna Kalimat Rukun dalam Rukun Islam
Senin, 3 Juni 2013
Makna Kalimat Rukun dalam Rukun Islam
Senin, 3 Juni 2013
قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : بُنِيَ الإسلامُ عَلَى خَمْسٍ :
شَهَادَةِ أنْ لاَ إله إلاَّ اللهُ ، وأنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ ، وإقَامِ
الصَّلاةِ ، وإيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ( صحيح البخاري
)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
فَحَمْدًا
لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ
وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ
دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا
وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي
الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ
مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ
بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.,
Ketahuilah bahwa cahaya limpahan
hidayah tiada akan pernah berhenti berpijar dari zaman ke zaman hingga zaman
berakhir, yang dibawa oleh para nabi dan rasul sampai kepada akhir para nabi
dan rasul untuk disebarkan di segala penjuru barat dan timur, sayyidina
Muhamamd shallallahu ‘alaihi wasallam, petunjuk terluhur untuk mendapatkan
mutiara kebahagiaan hidup di dunia yang fana dan di akhirat yang kekal dan
abadi, yang hal itu tersimpan di dalam tuntunan luhur sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diizinkan oleh Allah subahanahu wata’ala
untuk menyeru jiwa hamba-hamba agar tergerak untuk menuju keluhuran, tergerak
untuk menuju kemuliaan, tergerak untuk meninggalkan kehinaan, tergerak untuk
meninggalkan dosa dan kesedihan, serta bergembira dan bersyukur atas kenikmatan
yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya, yang dengan hal itu Allah
subhanahu wata’ala akan melipatgandakan kenikmatan yang lebih lagi kepadanya,
dan meninggikan derajat mereka untuk terus menaiki tangga-tangga keluhuran
Ilahi, menuju cinta Allah, menuju ridha Allah, dengan diberi musibah dan
dilimpahi kenikmatan, dimana Allah subhanahu wata’ala ingin menguji kadar
keimanan mereka disaat dilimpahi kenikmatan dan di saat diberi musibah, yang
kesemua itu senantiasa terjadi dalam setiap detik kehidupan manusia, dan setiap
lintasan pemikiran manusia tidak akan dilupakan atau terlewatkan dari
pengetahuan Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firmanNya:
اللَّهُ
لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
( البقرة : 255 )
“ Allah,
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal Yang
terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur”. ( QS.
Al Baqarah : 255)
Allah subhanahu wata’ala Maha
mengetahui apa yang manusia fikirkan, apa yang sedang diniatkan dan yang
diinginkan atau yang tidak diinginkan, Maha mengetahui hal-hal yang membuat
mereka risau dan gembira, sungguh kesemua itu dilihat oleh Allah subhanahu
wata’ala dalam setiap waktu, dan tidak ada sesuatu apa pun yang terlepas dari
pengetahuan dan penglihatan Allah subhnahu wata’ala. Allah Maha Melihat, tidak
hanya sesuatu yang tampak dalam diri manusia, namun penglihatan Allah subhanahu
wata’ala menembus bathin dan pemikiran manusia yang tidak terlihat oleh mata.
Allah subhanahu wata’ala Maha melihat namun tidak membutuhkan mata, Allah Maha
mendengar namun tidak membutuhkan telinga, Allah Maha mampu melakukan segala
sesuatu namun tanpa membutuhkan jasad, dan Allah Maha berkuasa namun tidak
membutuhkan tempat atau singgasana.
Allah subhanahu wata’ala telah
menghamparkan alam semesta dari tiada, yang kemudian terciptalah begitu banyak
planet-planet yang beredar sesuai dengan peraturannya masing-masing, yang
kesemuanya diatur oleh Sang Maha Tunggal dan Maha Abadi, Yang akan mengakhiri
alam semesta ini dengan hari kiamat, dimana ketika itu tiada lagi dari umat ini
yang menyebut nama Allah subhanahu wata’ala. Sungguh nama “Allah” yang keluar
dari lisan seseorang jauh lebih dihargai oleh Allah subhanahu wata’ala daripada
seluruh alam semesta, sehingga ketika nama itu tiada lagi disebut oleh umat
sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka diterbitkanlah matahari
dari arah barat sehingga hancurlah seluruh alam semesta. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda :
لاَ تَقُوْمُ
السَّاعَةُ حَتَّى لَايُقَالَ فِى الْأَرْضِ الله الله
“ Tidak
akan terjadi hari kiamat hingga tidak lagi diucapkan di muka bumi “Allah Allah”
Dan dalam riwayat lain, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لاَ
تَقُوْمُ السَّاعَةُ عَلَى رَجُلٍ يَقُوْلُ لَا إِلهَ إِلَّا الله
“ Kiamat
tidak akan terjadi / menimpa seseorang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah ”
Maka sungguh beruntung seseorang
yang hadir di mejelis-majelis dzikir yang didalamnya disebut nama Allah
subhanahu wata’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ
للّهِ تِسْعَةَ وِتِسْعِينَ اسْمًا مَنْ حَفِظَها دَخَلَ الجَنَّةَ
“
Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, barangsiapa yang menghafalnya ia akan
masuk surga”.
Begitu mudah untuk masuk surga yaitu
hanya dengan menghafal nama Allah subhanahu wata’ala. Karena seseorang yang
menghafal nama-nama Allah subhanahu wata’ala maka jiwa dan sanubarinya disinari
oleh cahaya nama-nama Allah subhanahu wata’ala yang ada dalam diri dan
ingatannya, hingga ia senantiasa berfikir tentang kemuliaan dan selalu ingin
menjauh dari perbuatan hina dan senantiasa ingin melakukan perbuatan yang
mulia, dimana ia akan merasa mudah untuk melakukan hal-hal yang mulia dan
merasa bosan dan kesal dalam berbuat kehinaan karena jiwanya telah dipenuhi dengan
cahaya hidayah, yang demikian itu terbit dalam jutaan sanubari yang bersumber
dari satu makhluk mulia yang telah menyeru manusia ke jalan Allah subhanahu
wata’ala, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah
difirmankan Allah subhanahu wata’ala :
وَدَاعِيًا
إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا ( الأحزاب : 46 )
“Dan untuk
menjadi penyeru kepada (Agama) Allah dengan izinNya dan untuk menjadi cahaya
yang menerangi”. ( QS. Al Ahzab : 46 )
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
adalah Shahib Al Isra’ dan Al Mi’raj, Shahib Al Haramain, Shahih Al Aqsha,
pemimpin para makhluk terdahulu dan pemimpin para makhluk yang terakhir,
sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin yang dimuliakan Allah
Kita telah membaca hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat
Shahih Al Bukhari, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits
tersebut menjelaskan tentang hal-hal yang menjadikan tegaknya Islam yaitu
terdapat 5 hal, yang dikenal dengan Rukun Islam. Dimana terdapat lebih dari 13
riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim yang menjelaskan tentang Rukun
Islam, namun diantara riwayat-riwayat tersebut berbeda redaksi, sebagian
mendahulukan puasa ramadhan daripada ibadah haji, dan sebagian yang lain
sebaliknya. Dan hadits ini berkaitan dengan pembahasan kita dalam kitab Ar
Risalah Al Jami’ah yaitu tentang Rukun Islam.
Sebelum kita memahami makna Rukun
Islam, maka selayaknya kita memahami arti dari kata “Rukun” dan arti dari kata
“Islam”. Kata “Islam” secara bahasa berarti “Al Istislam” yaitu pasrah diri,
adapun secara istilah bermakna pasrah diri terhadap hukum syariat Islam yang
telah dibawa dan dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta
mengamalkannya. Maka tidak cukup hanya dengan mengakui atau mengimani saja,
namun harus diamalkan.
Jika seseorang mengakui hukum-hukum
syariat seperti wajibnya melakukan shalat, puasa, zakat dan lainnya namun ia
tidak mengamalkannya maka ia bukanlah seorang muslim yang sejati dan bukan
berarti ia seorang kafir, akan tetapi orang yang demikian dapat dihukumi murtad
atau seorang yang telah melakukan dosa-dosa besar. Sedangkan kata “Rukun”
secara bahasa berarti suatu sisi yang kuat untuk dijadikan sebagai pegangan,
adapun secara istilah yaitu bagian dari sesuatu yang mana suatu perbuatan tidak
akan sempurna kecuali dengan hal tersebut. Sehingga tidak sempurna islam
seseorang kecuali dengan ia melakukan shalat, tidak sempurna islam seseorang
kecuali dengan melakukan puasa Ramadhan, tidak sempurna islam seseorang kecuali
dengan menunaikan zakat, dan tidak sempurna islam seseorang kecuali dengan
menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Adapun permulaan islam adalah syahadah
yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah subhanahu wata’ala.
Kemudian yang kedua adalah shalat,
dan ketiga adalah zakat, dan keempat adalah puasa bulan Ramadhan dan yang
kelima adalah menunaikan ibadah haji bagi yang mampu, demikian urutan rukun
Islam yang terdapat dalam banyak riwayat shahih, yaitu mendahulukan puasa
Ramadhan daripada haji, karena ibadah haji adalah ibadah yang paling berat
diantara semua rukun Islam, dan yang paling ringan adalah syahadat. Adapun
syahadat jika tidak dilafadzkan maka sah keislaman seseorang di sisi Allah
subhanahu wata’ala, namun belum sah di hadapan muslimin yang lainnya. Maka
seseorang non muslim yang ingin dikatakan sebagai seorang muslim hendaklah ia
mengucapkan syahadat dengan secara lisan dan tidak cukup hanya dengan hati
saja. Namun banyak orang yang wafat dalam keadaan Islam namun ia dimakamkan
dengan cara non muslim, dimana hatinya telah beriman bahwa tiada tuhan selain
Allah subhanahu wata’ala dan beriman bahwa nabi Muhammad utusan Allah subhanahu
wata’ala, namun ia belum mengucapkan syahadat secara lisan sehingga dalam
pandangan orang lain ia wafat dalam keadaan bukan muslim, namun hakikatnya ia
digolongkan ke dalam kelompok kaum muslimin. Dan sebaliknya banyak orang yang
mengucapkan syahadat dengan lisan mereka namun hatinya megingkari makna
syahadat, maka mereka tidaklah termasuk ke dalam kelompok orang-orang kafir
akan tetapi mereka termasuk orang-orang yang munafik, wal ‘iyadzubillah.
Pembahasan berikutnya insyaallah akan kita lanjutkan di majelis yang akan
datang.
Kemudian saya menghimbau bagi para
jamaah yang ingin mendapatkan pahala agung di bulan Ramadhan untuk mengambil
jadwal majelis karena di bulan Ramadhan majelis akan tetap berlangsung hingga
di malam hari takbiran Idul Fitri, maka bagi yang berkesempatan dan bisa hadir
supaya hadir, daripada waktu sehabis shalat tarawih terlewatkan begitu saja
maka alangkah baiknya jika kita jadikan untuk menghadiri majelis. Karena jadwal
majelis luar kota akan saya alihkan ke bulan Ramadhan jika jadwal majelis di
Jakarta banyak yang kosong. Kemudian dalam beberapa hari lagi kita akan sampai
pada acara akbar Isra’ Mi’raj nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka
saya harap para jamaah lebih bersemangat untuk membantu kesuksesan acara
tersebut, sebagaimana yang saya sampaikan bahwa kali ini insyallah kita tidak
akan meminta bantuan dari para pejabat atau para elite politik, namun kita akan
berusaha mandiri dengan dana dari diri kita sendiri untuk event-event akbar
seperti Isra’ Mi’raj, Nisf Sya’ban dan Haul Ahlul Badr insyallah, namun demikian
kita tetap menghargai dan menghormati para pejabat dan para elite politik.
Semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan
anugerah seluas-luasnya bagi kita, dan Allah subhanahu wata’ala tidak akan
merubah keadaan suatu kaum jika mereka tidak merubah diri mereka sendiri, jika
kita muali berubah dari diri kita maka Allah subhanahu wata’ala yang akan
melimpahkan anugerahNya seluas-luasnya kepada kita, demikian yang ingin saya
sampaikan. Selanjutnya kita akan bersalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, kemudian kita akan melakukan shalat ghaib bagi yang telah wafat yang
akan dipimpin oleh Al Habib Hud bin Bagir Al Atthas sekaligus pengucapan
kalimat talqin, yatafaddhal masykura.


No comments :
Post a Comment