Banyak hal yang
bisa dipetik dari atraksi panjat pinang. Panjat pinang dapat dilukiskan sebagai
upaya manusia untuk menggapai cita-cita dan aspirasinya. Aspirasi dan tujuan
hidup merupakan sasaran yang membawa manusia tahu dan mengerti akan apa yang
sedang dikerjakannya saat ini. Manusia yang malang di dunia ini, bukan mereka
yang tidak mempunyai uang (miskin), melainkan mereka yang tidak mempunyai
tujuan dalam hidupnya.
Usaha pencapaian
cita-cita tersebut tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melibatkan orang
lain dalam relasi yang harmonis. Dalam panjat pinang tampak pembagian tugas
yang jelas, ada yang sebagai penahan beban dibawah, ada yang tugasnya
menghilangkan oli yang licin dan ada yang siap di atas untuk meraih hadiah-hadiah
yang tergantung.
![]() |
| nanao178.deviantart.com |
Jika dicermati
lebih jauh, dalam atraksi tersebut, seluruh tim seolah-olah bekerja sama. Pada
kenyataannya banyak peserta yang tidak menyadari bahwa mungkin maksud hatinya
menolong rekannya supaya sampai di atas, namun yang terjadi adalah justru
menariknya kembali ke bawah. Disadari atau tidak, dalam kehidupan ini pun
demikian, teman yang dikira teman, akhirnya malah menjatuhkan. Memang
diperlukan kejernihan dan niat tulus untuk menggapai cita-cita dalam kerja sama
agar diperoleh dukungan yang kuat dari lingkungan. Itulah sebabnya, peran dan
dukungan keluarga sangat penting dalam upaya merealisasikan mimpi-mimpi menjadi
kenyataan yang proporsional.
Panjat pinang
menggambarkan kehidupan manusia yang naik turun, tidak stabil dan seimbang. Ada
kalanya seseorang berada dalam puncak karier dan kekayaan, namun ada kalanya
berada pada titik terendah dalam hidup. Ada yang sukses materi, namun gagal
dalam mendidik anak-anaknya. Ada pula yang gemilang dalam karier, namun kering
dalam kehidupan spiritual. Itulah sebabnya tidak ada yang konstan dalam
kehidupan ini.
Mengucapkan
syukur untuk setiap anugerah kehidupan yang dinikmati setiap hari merupakan
langkah yang paling baik untuk bisa melalui kehidupan ini dengan penuh
kebahagiaan. Jika kesuksesan tidak ada yang konstan, maka kegagalan pun
demikian, tidak akan ada yang bertahan selama-lamanya. Semua akan berakhir dan
berganti dengan yang baru. Itulah sebabnya Billi S. Lim mengatakan bahwa
“Kegagalan tidak berhenti di kegagalan, dia hanya menumpang lewat saja dalam
diri manusia”. Bahkan Thomas Alfa Edison mengatakan bahwa “Banyak orang yang
gagal adalah orang yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan
kesuksesan saat mereka menyerah”.
Oleh karena itu,
hidup ini berputar, sudah semestinya setiap orang saling merendahkan hati dan
menganggap orang lain lebih penting dari dirinya sendiri. Kunci kerendahan hati
inilah yang selanjutnya mendorong seseorang untuk mampu melayani satu sama
lainnya.
Kembali jika
kita telaah secara seksama, atraksi panjat pinang selalu menempatkan orang yang
lebih gesit, lincah, kompeten, dan kreatif pada posisi di atas. Sedangkan yang
lainnya, biasanya pada posisi yang mendukung penuh di bawah. Jarang sekali
orang berlomba-lomba untuk naik atau menjadi orang yang paling atas. Tidak ada
waktu untuk negosiasi berdasarkan kedekatan hubungan teman untuk menempati
posisi di ata. Setiap pemain dalam panjat pinang, akhirnya sadar diri dan tahu
memposisikan dirinya sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya.
Itulah sebabnya,
dalam rangka memajukan bisnis jaringan ini, sudah seharusnya orang-orang yang
berkompeten siap naik dan berbicara digarda terdepan. Bisnis ini tidak akan
berkembang jika menekankan senioritas tanpa didukung oleh kompetensi yang
maksimal. Perusahaan pun akan tersendat-sendat lajunya, seandainya dalam
menjalankan bisnis ini masih menekankan pada faktor kedekatan.
Sebagaimana
halnya panjat pinang, baik yang di atas maupun di bawah, baik yang kompeten
maupun yang perlu diasah lagi kompetensinya, semuanya memiliki peran masing-masing.
Orang yang di atas tidak mungkin bisa mencapai harapannya tanpa dukungan yang
di bawah. Begitu pun sebaliknya, orang yang di bawah tidak mungkin bisa meraih
cita-cita timnya tanpa ada orang yang lebih kompeten dan menjadi pendobrak di
atasnya. Tidak selalu yang kita tabor itu pula yang kita tuai. Kadangkala
justru terjadi sebaliknya, kita harus berbesar hati mengizinkan orang lain
untuk menuai apa yang sudah kita rintis selama ini. Orang yang menuai pun tidak
selalu dia telah menabur benihnya, mungkin orang lain sebelum dia. Oleh sebab
itu, diperlukan pengakuan dan penghargaan atas karya-karya orisinalitas orang
lain.
Oleh karena itu, tidak ada orang yang merasa dirinya lebih penting dalam memajukan perusahaan. Dalam era persaingan seperti saat ini, tidak tepat rasanya jika masih ada segelintir individu yang menganggap korsanya lebih penting dari yang lain. Tinggal bagaimana kita menempatkan orang-orang yang tepat pada tempat yang tepat supaya terjadi pelipatgandaan manfaat kompetensi. Selamat meraih cita-cita hidup Anda dalam bisnis ini.

No comments :
Post a Comment