PERSEPSI INTRAPERSONAL DAN PRASANGKA
BAB I
PENDAHULUAN
Menurut Jalaludin Rakhmat, dalam Ilmu Komunikasi persepsi individu
diidentifikasikan kedalam dua bentuk persepsi, yakni : “Persepsi intrapersonal
dan persepsi interpersonal. Secara umum persepsi intrapersonal dapat dikatakan
sebagai persepsi yang terjadi didalam benak individu dan banyak dipengaruhi
faktor-faktor internal dan dalam proses persepsi intrapersonal lebih banyak
melibatkan kegiatan komunikasi intrapersonal yakni meliputi sensasi, persepsi,
memori dan berfikir. Sedangkan persepsi interpersonal dipengaruhi oleh
faktor-faktor sosial seperti pengaruh interpersonal, nilai-nilai kultural, dan
harapan-harapan. Selain itu persepsi interpersonal bukan kepada objek akan
tetapi kepada manusia”. (Rakhmat, 1999 : 80).
Selanjutnya dalam persepsi intrapersonal dan persepsi interpersonal Joseph A. DeVito dan Brian Fellows, sebagaimana dikutip oleh Deddy Mulyana mengemukakan bahwa : “Persepsi intrapersonal dan persepsi interpersonal tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Persepsi juga dikatakan sebagai proses pemberian makna terhadap sensasi atau dapat dikatakan sebagai proses penangkapan stimuli, dapat dikatakan juga bahwa stimuli merupakan faktor utama dalam pembentukan suatu persepsi seseorang.” (Mulyana, 2000 : 168).
Dengan adanya penjelasan diatas maka makalah ini akan membahas secara
spesifik pada komunikasi intrapersonal sebagai cara yang mendominasi adanya
persepsi intrapersonal. Makalah ini juga akan membahas prasangka sebagai salah
satu hasil atau dampak yang timbul dari adanya persepsi intrapersonal melalui
komunikasi intrapersonal.
BAB II
PEMBAHASAN
Dalam komunikasi intrapersonal dijelaskan bagaimana orang menerima
informasi, mengolahnya, menyamakannya dan menghasilkan sebuah bentuk kesimpulan
yang baru. Proses pengolahan informasi yang dibahas dalam tulisan ini
khususnya, yakni komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, memori,
dan berpikir.
1. Sensasi
Sensasi berasal dari kata “sense”
yang artinya alat pengindraan, yang menghubungkan organisme dengan
lingkungannya. Menurut Dennis Coon, “Sensasi adalah pengalaman elementer yang
segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan
terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.”
Definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima
informasi dari lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Kita
mengelompokannya pada tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber
informasi. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari
dalam diri (internal). Informasi dari luar diindera oleh eksteroseptor
(misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam diindera oleh ineroseptor
(misalnya, system peredaran darah). Gerakan tubuh kita sendiri diindera oleg
propriseptor (misalnya, organ vestibular).
2. Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa,
atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan
menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi
(sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi, seperti juga
sensasi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor lainnya
yang memengaruhi persepsi, yakni perhatian.
a)
Perhatian (Attention)
Perhatian adalah proses mental
ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesdaran pada saat
stimuli lainnya melemah (Kenneth E. Andersen)
1)
Faktor Eksternal Penarik Perhatian
Hal ini ditentukan oleh
faktor-faktor situasional personal. Faktor situasional terkadang disebut
sebagai determinan perharian yang bersifat eksternal atau penarik perhatian
(attention getter) dan sifat-sifat yang menonjol, seperti :
Ø
Gerakan secara visual
tertarik pada objek-objek yang bergerak.
Ø
Intensitas Stimuli, kita
akan memerhatikan stimuli yang menonjol dari stimuli yang lain
Ø
Kebauran (Novelty), hal-hal
yang baru dan luar biasa, yang beda, akan menarik perhatian.
Ø Perulangan, hal-hal yang disajikan berkali-kali bila disertai
sedikit variasi akan menarik perhatian.
2)
Faktor Internal Penaruh Perhatian
Apa yang menjadi perhatian kita
lolos dari perhatian orang lain, atau sebaliknya. Ada kecenderungan kita melihat apa yang ingin
kita lihat, dan mendengar apa yang ingin kita dengar. Perbedaan ini timbul dari
faktor-faktor yang ada dalam diri kita. Contoh-contoh faktor yang memengaruhi
perhatian kita adalah:
Ø
Faktor-faktor Biologis
Ø
Faktor-faktor
Sosiopsikologis.
Ø
Motif Sosiogenis, sikap, kebiasaan, dan kemauan,
memengaruhi apa yang kita perhatikan.
3)
Faktor-faktor Fungsional yang
Menentukan Persepsi
Faktor fungsional berasal dari
kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal lain yang termasuk apa yang ingin kita
sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau
bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memeberikan respons pada
stimuli itu.
4)
Faktor-faktor Struktural yang
Menentukan Persepsi
Faktor-faktor struktural berasal
semata-mata dari sifat stimuli fisik dan ekfek-efek saraf yang ditimbulkannya
pada system saraf individu. Para psikolog
Gestalat, seperti Kohler, Wartheimer, dan Koffka, merumuskan prinsip-prinsip
persepsi yang bersifat struktural. Prinsip-prinsip ini kemundian terkenal
dengan nama teori Gestalt. Menurut teori Gestalt, mempersepsi sesuatu, kita
mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Dengan kata lain, kita tidak
melihat bagian-bagiannya. Jika kia ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak
dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah; kita harus memandangnya dalam
hubungan keseluruhan
3. Memori
Dalam komunikasi Intrapersonal, memori memegang
peranan penting dalam memengaruhi baik persepsi maupun berpikir. Memori adalah
system yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam
fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya
(Schlessinger dan Groves).
a)
Memori melewati tiga proses:
Ø
Perekaman (encoding) adalah
pencatatan informasi melalui reseptor inera dan sirkit saraf internal.
Ø Penyimpanan (strorage) adalah menentukan berapa lama informasi
itu berada berserta kita, dalam bentuk apa, dan di mana.
Ø
Pemanggilan (retrieval),
dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah menggunakan informasi yang
disimpan. Pemanggilan diketahui dengan empat cara :
1)
Pengingatan (Recall), Proses aktif
untuk menghasilkan kembali fakta dan informasi secara verbatim (kata demi
kata), tanpa petunjuk yang jelas.
2)
Pengenalan (Recognition), Agak
sukar untuk mengingat kembali sejumlah fakta;lebih mudah mengenalnya.
3)
Belajar lagi (Relearning),
Menguasai kembali pelajaran yang sudah kita peroleh termasuk pekerjaan memori.
4)
Redintergrasi (Redintergration),
Merekontruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk memori kecil.
b)
Mekanisme Memori
Ada tiga
teori yang menjelaskan memori :
1)
Teori Aus (Disuse Theory), memori
hilang karena waktu. William James, juga Benton J. Underwood membuktikan dengan
eksperimen, bahwa “the more memorizing
one does, the poorer one’s ability to memorize” – makin sering mengingat,
makin jelek kemampuan mengingat.
2)
Teori Interferensi (Interference
Theory), Memori merupakan meja lilin atau kanvas. Pengalaman adalah lukisan
pada menja lilin atau kanvas itu. Ada
5 hal yang menjadi hambatan terhapusnya rekaman : Interferensi, inhibisi
retroaktif (hambatan kebelakang), inhibisi proaktif (hambatan kedepan),
hambatan motivasional, dan amnesia.
3)
Teori Pengolahan Informasi
( Information Processing Theory), menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan
pada sensory storage (gudang inderawi), kemudian masuk short-term memory (STM,
memory jangka pendek; lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukan pada Long-Term
Memory (LTM, memori jangka panjang).
4. Berpikir
Dalam berpikir kita melibat semua proses yang kita
sebut sensasi, persepsi, dan memori. Berpikir merupakan manipulasi atau
organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga
tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak. Berpikir menunjukan
berbagai kegiatan yang melibatkan penggunaan konsep dan lambang, sebagai
pengganti objek dan peristiwa. Berpikir kita lakukan untuk memahami realitas
dalam rangka mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan
(problem solving). Dan menghasilkan yang baru (creativity).
Ada dua macam berpikir:
a)
Berpikir autistik, dengan melamun,
berfantasi, menghayal, dan wishful thinking. Dengan berpikir autistic, orang
melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar
fantastis.
b)
berpikir realistic, disebut juga
nalar (reasoning), ialah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia
nyata. Floyd L. Ruch, menyebutkan tiga macam berpikir realistik:
Ø
Berpikir deduktif : mengambil
kesimpulan dari dua pernyataan, dalam logika disebutnya silogisme.
Ø
Berpikir Induktif : Dimulai
dari hal-hal yang khusu kemundian mengambil kesimpulan umum; kita melakukan
generalisasi.
Ø
Berpikir evaluatif :
berpikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan, kita
tidak menmbah atau mengurangi gagasan, namun menilainya menurut kriteria
tertentu.
1)
Menetapkan Keputusan (Decision
Making)
Salah satu fungsi berpikir adalah
menetapkan keputusan. Keputusan yang kita ambil beraneka ragam. Tanda-tanda
umumnya:
Ø
Keputusan merupakan hasil
berpikir, hasil usaha intelektual.
Ø
keputusan selalu melibatkan
pilihan dari berbagai alternative.
Ø
keputusan selalu melibatkan
tindakan nyata, walaupun pelaksanaanya boleh ditangguhkan atau dilupakan.
Faktor-faktor personal amat menentukan apa yang
diputuskan, antara lain :
Ø
Kognisi, kualitas dan
kuantitas pengetahuan yang dimiliki
Ø
Motif, amat memengaruhi
pengambilan keputusan.
Ø
Sikap, juga menjadi faktor
penentu lainnya.
2)
Memecahkan persoalan (Problem
Solving)
Proses memecahkan persoalan berlangsung melalui lima tahap :
Ø
Terjadi peristiwa ketika
perilaku yang biasa dihambat Karena sebab-sebab tertentu.
Ø
Anda mencoba menggali
memori anda untuk mengatahui cara apa saja yang efektif pada masa lalu.
Ø
pada tahap ini, anda
mencoba seluruh kemungkinan pemecahan yang pernah anda ingat atau yang dapat
anda pikirkan.
Ø
Anda mulai menggunakan
lambing-lambang vergal atau grafis untuk mengatasi masalah.
Ø
Tiba-tiba terlintas dalam
pikiran anda suatu pemecahan. Pemecahan masalah ini biasa disebut Aha-Erlebnis
(Pengalaman Aha), atau lebih lazim disebut insight solution.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Proses Pemecahan
Masalah
Pemecahan masalah dipengaruhi
faktor-faktrot situasional dan personal. Faktor-faktor situasional terjadi,
misalnya, pada stimulus yang menimbulkan masalah. Pengaruh faktor-faktor
biologis dan sosiopsikologis terhadap proses pemecahan masalah. Contohnya :
Ø
Motivasi, Motivasi yang rendah lebih mengalihkan perhatian.
Motivasi yang tinggi membatasi fleksibilitas.
Ø
Kepercayaan dan sikap yang salah, Asumsi yang salah dapat
menyesatkan kita.
Ø
Kebiasaan, Kecenderungan untuk memertahankan pola berpikir
tertentu, atau misalnya melihat masalah dari satu sisi saja, atau kepercayaan
yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas, mengahambat pemecahan
masalah yang efisien.
Ø
Emosi, Dalam menghadapi berbagai situasi, kita tanpa sadar sering
terlibat secara emosional. Emosi mewarnai cara berpikir kita. Kita tidak pernah
berpikir betul-betul secara objektif.
3)
Berpikir Kreatif (Creative
Thinking).
Berpikir kreatif menurut James C.
Coleman dan Coustance L. Hammen, adalah “thinking
which produces new methods, new concepts, new understanding, new invations, new
work of art.” Pemikiran yang menghasilkan metode baru, konsep baru, pemahaman baru, invasi baru,
pekerjaan baru dari seni. Berpikir kreatif harus memenui tiga
syarat:
Ø
Kreativitas melibatkan
respons atau gagasan yang baru, atau yang secara statistic sangat jarang
terjadi. Tetapi kebauran saja tidak cukup.
Ø
Kreativitas ialah dapat memecahkan
persoalan secara realistis.
Ø
Kreativitas merupakan usaha
untuk memertahankan insight yang orisinal, menilai dan mengembangkannya sebaik
mungkin.
Ketika orang berpikir kreatif,
cara berpikir yang digunakan adalah berpikir analogis. Guilford membedakan antara berpikir kreatif
dan tak kreatif dengan konsep konvergen dan divergen. Kata Guilford, orang
kreatif ditandai dengan cara berpikir divergen. Yakni, mencoba menghasilkan
sejumlah kemungkinan jawaban. Berpikir konvergen erat kaitannya dengan kecerdasan,
sedangkan divergen kreativitas. Berpikir divergen dapat diukur dengan fluency,
flexibility, dan originality.
a.
Proses Berpikir Kreatif
Para psikolog menyebutkan lima tahap berpikir
kreatif :
Ø
Orientasi : Masalah
dirumuskan, dan aspek-aspek masalah diidentifikasi.
Ø
Preparasi : Pikiran
berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah.
Ø
Inkubasi : Pikiran
beristirahat sebentar, ketika berbagai pemecahan berhadapan dengan jalan buntu.
Pada tahap ini, proses pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah
sadar kita.
Ø
Iluminasi : Masa Inkubasi
berakhir ketika pemikir memperoleh semacam ilham, serangkaian insight yang
memecahkan masalah. Ini menimbulkan Aha Erlebnis.
Ø
Verifikasi : Tahap terakhir
untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan pada
tahan keempat.
b.
Faktor-faktor yang Memengaruhi
Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif tumbuh subur
bila ditunjang oleh faktor personal dan situasional. Menurut Coleman dan
Hammen, faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif adalah :
Ø
Kemampuan Kognitif :
Termasuk di sini kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan
gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas
kognitif.
Ø
Sikap yang terbuka : orang
kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal maupun eksternal.
Ø
Sikap yang bebas, otonom,
dan percaya pada diri sendiri : orang kreatif ingin menampilkan dirinya semampu
dan semaunya, ia tidak terikat oleh konvensi-kovensi. Hal ini menyebabkan orang
kreatif sering dianggap “nyentrik” atau gila.
PRASANGKA
Prasangka adalah sikap (biasanya negatif) kepada anggota kelompok
tertentu yang semata-mata didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok
(Baron & Byrne, 1991). Sementara itu, Daft (1999) memberikan definisi
prasangka lebih spesifik yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang
yang memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik,
atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Soekanto (1993) dalam ‘Kamus
Sosiologi’ menyebutkan pula adanya prasangka kelas, yakni sikap-sikap
diskriminatif terselubung terhadap gagasan atau perilaku kelas tertentu.
Prasangka ini ada pada kelas masyarakat tertentu dan dialamatkan pada kelas
masyarakat lain yang ada didalam masyarakat. Sudah jamak kelas atas berprasangka
terhadap kelas bawah, dan sebaliknya kelas bawah berprasangka terhadap kelas
atas. Sebagai contoh, jika kelas atas mau bergaul dengan kelas bawah maka
biasanya kelas atas oleh kelas bawah dicurigai akan memanfaatkan mereka. Bila
kelas bawah bergaul dengan kelas atas dikira oleh kelas atas akan mencuri dan
sebagainya.
Sebagai sebuah sikap, prasangka mengandung tiga komponen dasar sikap
yakni:
a)
perasaan (feeling), Perasaan yang umumnya terkandung
dalam prasangka adalah perasaan negatif atau tidak suka bahkan kadangkala
cenderung benci.
b)
kecenderungan untuk melakukan tindakan (Behavioral
tendention), Kecenderungan tindakan yang menyertai prasangka biasanya keinginan
untuk melakukan diskriminasi, melakukan pelecehan verbal seperti menggunjing,
dan berbagai tindakan negatif lainnya.
c)
adanya suatu pengetahuan yang diyakini mengenai objek
prasangka (beliefs), pengetahuan mengenai objek prasangka biasanya berupa
informasi-informasi, yang seringkali tidak berdasar, mengenai latar belakang
objek yang diprasangkai.
Prasangka merupakan salah satu penghambat terbesar dalam membangun
hubungan antar individu yang baik (Myers, 1999). Bisa dibayangkan bagaimana
hubungan interpersonal yang terjadi jika satu sama lain saling memiliki
prasangka, tentu yang terjadi adalah ketegangan terus menerus. Padahal sebuah
hubungan antar pribadi yang baik hanya bisa dibangun dengan adanya kepercayaan,
dan dengan adanya prasangka tidak mungkin timbul kepercayaan. Sehingga adalah
muskil suatu hubungan interpersonal yang baik bisa terbangun. Dalam konteks
lebih luas, kegagalan membangun hubungan antar individu yang baik sama artinya
dengan kegagalan membangun masyarakat yang damai.
Menurut Poortinga (1990) prasangka memiliki tiga faktor utama yakni:
a)
stereotip, Stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri
yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok tehadap kelompok lain, atau
oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993). Secara lebih tegas Matsumoto
(1996) mendefinisikan stereotip sebagai generalisasi kesan yang kita miliki
mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian.
b)
jarak sosial, Jarak sosial adalah suatu jarak
psikologis yang terdapat diantara dua orang atau lebih yang berpengaruh
terhadap keinginan untuk melakukan kontak sosial yang akrab. Jauh dekatnya jarak
sosial seseorang dengan orang lain bisa dilihat dari ada atau tidaknya
keinginan-keinginan berikut :
Ø
Keinginan untuk saling berbagi,
Ø
Keinginan untuk tinggal dalam pertetanggaan,
Ø
Keinginan untuk bekerja bersama,
Ø
Keinginan yang berhubungan dengan pernikahan.dan
sikap diskriminasi.
c)
Diskriminasi, Diskriminasi adalah perilaku menerima
atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok
(Sears, Freedman & Peplau,1999).
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Penjelasan diatas sudah bisa menggambarkan bagaimana persepsi
intrapersonal itu terjadi melalui komunikasi intrapersonal. Komunikasi
intrapersonal menguraikan bagaimana seorang individu menerima informasi,
mengolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya kembali, yang melalui
tahap-tahap proses sensasi, asosiasi, persepsi, memori, dan berfikir.
Adapun prasangka adalah salah satu hal yang muncul
dari persepsi intrapersonal itu sendiri. Ketiga faktor yang
disebutkan diakhir penjelasan prasangka tidak dapat terpisahkan dalam
prasangka. Stereotip memunculkan prasangka, lalu karena prasangka maka terjadi
jarak sosial, dan setiap orang yang berprasangka cenderung melakukan
diskriminasi. Sementara itu Sears, Freedman & Peplau (1999) menggolongkan
prasangka, stereotip dan diskriminasi sebagai komponen dari antagonisme
kelompok, yaitu suatu bentuk oposan terhadap kelompok lain. Stereotip adalah
komponen kognitif dimana kita memiliki keyakinan akan suatu kelompok. Prasangka
sebagai komponen afektif dimana kita memiliki perasaan tidak suka. Dan,
diskriminasi adalah komponen perilaku.
DAFTAR PUSTAKA
Hardjana, Agus M. 2003. Komunikasi
Intrapersonal dan Interpersonal. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI).
Shahizan. 2003. Intrapersonal &
Interpersonal Untuk Remaja. Percetakan Zafar.
West, Richard. 2008. Pengantar
Teori Komunikasi, Analisis & Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika
jurusankomunikasi.blogspot.com/.../komunikasi-intrapersonal.html
No comments :
Post a Comment