Blog Berbagi Informasi

Saturday, 2 February 2013

Psikologi Komunikasi

No comments :


BAB I

PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang

Manusia sebagai objek psikologi karena menjadi makhluk yang paling unik dengan kepribadian, sikap dan perilakunya masing-masing. Kondisi kejiwaan atau psikis seseorang akan berpengaruh terhadap komunikasi yang dibangun dilingkungannya. Salah satu sifat kejiwaan manusia yang tidak dapat dihindari pada zaman modern seperti sekarang ini adalah hedonisme. Faham yang ditularkan dari barat ini tentunya hal baru yang perlu dikaji lagi dalam pandangan islam, sebab islam tetap harus jadi pondasi awal dalam memandang berbagai aspek kehidupan. Maka, makalah ini akan membahas hedonisme dalam perspektif islam.

B.     Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah sebagai berikut:
·         Sebagai pemenuhan tugas UAS mata kuliah Psikologi Komunikasi
·         Agar dapat mengetahui hedonisme dalam pandangan islam
·         Agar dapat mengetahui dampak apa saja yang ditimbulkan oleh hedonisme itu sendiri.
·         Agar umat Islam tidak terpengaruh oleh faham hedonisme setelah membaca makalah ini.

C.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diambil sebagai pembatasan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
·         Apakah hedonisme itu?
·         Bagaimana Islam memandang hedonisme?
·         Apa saja dampak yang ditimbulkan oleh faham hedonisme?

BAB II

PEMBAHASAN


A.     Hedonisme

1.      Pengertian
Kata Hedonisme berasal dari bahasa Yunani "hedone" yang berarti nikmat, kesenangan. Hedonisme adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa manusia hendaknya hidup sedemikian rupa agar mencapai kenikmatan dan kesenangan.Menurut paham ini, manusia bagaimanapun akan menghindari penderitaan dan hanya mencari kenikmatan dalam hidupnya. Paham hedonisme sudah muncul sejak abad 4 SM oleh Aristippos (433-355SM). Menurutnya tujuan akhir manusia adalah mencapai kesenangan badaniah belaka. Sedangkan Epikuros (341-210 SM) menekankan kesenangan badan dan jiwa sebagai tujuan kehidupan manusia.
Paham hedonisme masih sangat populer hingga saat ini. Banyak orang mencari kesenangan karena banyak tawaran kenikmatan yang menggoda. dimana-mana semakin banyak orang memilih sesuatu yang bersifat instan dan mudah sehingga tidak perlu menempuh sesuatu yang sulit dan memerlukan proses, karena hal itu merupakan penderitaan.
Pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak.

2.      Macam-macam Hedoniseme
Faham hedonisme ini tebagi menjadi 2 bagian, yakni:
1)      Hedonisme psikologis
Faham ini berpandangan bahwa semua tindakan diarahkan untuk mencapai kenikmatan dan menghindari penderitaan. Pandangan ini mendasarkan diri pada teori yang mengatakan bahwa manusia bagaimanapun juga selalu hanya akan mencari kenikmatan dan menghindari perasaan yang tidak enak. Teori ini berbicara mengenai motivasi dasar manusia yang hanya mencari nikmat. Manusia sebenarnya menipu diri sendiri dan mengira tindakannya itu suci.
Dalam psikologi biasanya dibedakan antara tindakan manusia yang didorong oleh motivasi tak sadar, yang biasanya berlangsung secara spontan untuk mempertahankan hidup, dan hal ini tidak bisa direduksi kepada perasaan nikmat atau senang. Instinct untuk mempertahankan hidup merupakan sesuatu yang jauh lebih luas dan mendasar daripada hanya sekedar perasaan nikmat atau senang.

2)      Hedonisme etis
Faham ini berpandangan bahwa semua tindakan ‘harus’ ditujukan kepada kenikmatan dan menghindari penderitaan. Adalah etika yang membuat pencarian kebahagiaan menjadi prinsip yang paling dasar. Manusia hendaknya hidup sedemikian rupa sehingga dia dapat semakin bahagia. Pertimbangan  yang mendasarinya adalah  bahwa kebahagiaan merupakan tujuan pada diri sendiri. Orang yang sudah bahagia tidak memerlukan apa-apa lagi, maka ia harus mencari perasaan-perasaan yang menyenangkan sebanyak mungkin dan menghindari perasaaan yang tidak enak.

B.     Hedonisme dalam Perspektif Islam

Faham hedonisme yang amat sangat mementingkan kesenangan semata dengan cara apapun kesenangan itu didapatkan dan amat sangat menghindari penderitaan sangat bertolak belakang dengan faham Islam. Bukan berarti Islam melarang umat manusia merasa senang atau mencari kesenangan tapi jika hanya kesenangan saja yang dicari didunia ini, maka umat Islam akan lupa fitrahnnya didunia ini adalah untuk ibadah kepada Allah SWT. Adanya sikap menghindari penderitaan akan membawa manusia pada sikap menjauhi ajaran Islam itu sendiri, sebab Islam menekankan pada kesederhanaan dan pencarian kebahagiaan itu bukan berupa fisik atau materi.
Ketika manusia memegang faham hedonisme maka mereka akan terjerumus pada sikap cinta dunia (hubbuddunya) yang justru harus dihindari oleh umat Islam karena akan membawa mereka pada perasaan takut mati, sebab takut kehilangan harta bendanya atau kesenangan duniawi mereka yang tidak akan ditemui didalam kubur. Orang yang berfikiran hedonisme juga tentunya akan berlaku konsumtif untuk memenuhi rasa kesenangannya. Dalam hal ini juga bertolak belakang dengan Islam yang mengjarkan sikap sederhana, tidak berlebih-lebihan dan apa adanya.
Orang-orang ini bisa saja terjerumus pada sikap boros karena memenuhi keingnan mereka, yang dalam Islam justru mesti dihindari, yakni pelarangan isrof atau sikap boros dan berlebih-lebihan. Seperti dalam ayat al Quran berikut ini:

وكلوا واشربوا ولاتسرفوا إنّهُ لا يحبّ المسرفين

Artinya:
“Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al ‘Arof : 31)

واتوا حقّه يوم حصاده ولاتسرفوا إنّه لايحبُّ المسرفين
Artinya:
“…dan tunaikanlah haknya di hari saat memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al An’am : 141)

Para ulama pun sepakat berpendapat bahwa boros adalah sikap yang dilarang oleh Islam. Seperti Atho’ bin Abi Robah mengatakan “Mereka dilarang belaku boros dalam hal apapun”. Ayat berikuntnya juga memperkuat pelarangan sikap boros dan mencari kesenangan semata.

انّ المبذرين كانوا إخوان الشيطان وكان الشيطان لربّه كفوراً
Artinya:
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan dan syetan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al Isro’ : 27).

Ayat ini mempertegas bahwa hedonisme juga bisa menjadikan seseorang berbuat tabzir, yakni mempergubakan harta bukan pada tempatnya, seperti penyaluran harta dalam kemaksiatan atau menyalurkannya pada perkara yang tidak bermanfaat baik untuk kesenangan semata maupun meremehkan fungsi harta itu sendiri.
Jelas sudah bahwa hedonisme bisa menjadikan seseorang bersikap boros sehingga banyak memubazirkan harta bendanya hanya untuk kesenangan semata. Padahal itu tidak memberikan manfaat apa-apa bagi dirinya. Tentu Islam melarang sikap ini.



BAB III

PENUTUP


A.     Kesimpulan

Setelah membahas pengertian hedonisme dan pandangan Islam terhadap hedonisme itu sendiri, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa hedonisme banyak memberikan dampak yang buruk terhadap sikap individu, sehingga harus dihindari. Seseorang jika sudah menganut hedonisme maka akan banyak melakukan kesia-siaan terhadap harta yang dimilikinya hanya untuk memenuhi hasratnya mencapai kesenangan. Berlaku konsumtif, boros, memubazirkan harta bendanya, semua itu hanya demi kesenangan yang akan membawanya pada sifat hubbuddunya yang sangat dibenci Allah karena orang tersebut akan takut mati, takut kehilangan harta benda dan kesenangan duniawinya.

B.     Saran

Pada akhirnya penulis menyarankan agar setiap umat Islam menghindari faham hedonisme yang akan membuat kita menyia-nyiakan segala sesuatu hanya untuk mencari kesenangan duniawi yang bersifat sementara. Tentunya kita semua umat Islam tidak ingin dibenci oleh Allah. Maka, sebisa mungkin hindari sikap konsumtif.



DAFTAR PUSTAKA


Sarwono, Sarlito Wirawan. 1999. Psikologi Sosial, Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
Bertens, K. 1993. Etika. Jakarta: PT. Gramedia Psutaka Utama.
Windriani, Nilam. Psikologi Populer, Membangun Hubungan Antar Manusia. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Jumantoro, Totok. 2001. Psikologi Dakwah Dengan Aspek-aspek Kejiwaan yang Qur’ani. Jakarta: Amzah.
Taufiq, Izzuddin Muhammad. 2006. Panduan Lengakap dan Praktis Psikologi Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

No comments :

Post a Comment