BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagai objek
psikologi karena menjadi makhluk yang paling unik dengan kepribadian, sikap dan
perilakunya masing-masing. Kondisi kejiwaan atau psikis seseorang akan
berpengaruh terhadap komunikasi yang dibangun dilingkungannya. Salah satu sifat
kejiwaan manusia yang tidak dapat dihindari pada zaman modern seperti sekarang
ini adalah hedonisme. Faham yang ditularkan dari barat ini tentunya hal baru
yang perlu dikaji lagi dalam pandangan islam, sebab islam tetap harus jadi
pondasi awal dalam memandang berbagai aspek kehidupan. Maka, makalah ini akan
membahas hedonisme dalam perspektif islam.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini ialah sebagai berikut:
·
Sebagai pemenuhan tugas UAS mata kuliah
Psikologi Komunikasi
·
Agar dapat mengetahui hedonisme dalam pandangan
islam
·
Agar dapat mengetahui dampak apa saja yang
ditimbulkan oleh hedonisme itu sendiri.
·
Agar umat Islam tidak terpengaruh oleh faham
hedonisme setelah membaca makalah ini.
C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
yang diambil sebagai pembatasan masalah dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
·
Apakah hedonisme itu?
·
Bagaimana Islam memandang hedonisme?
·
Apa saja dampak yang ditimbulkan oleh faham
hedonisme?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hedonisme
1.
Pengertian
Kata Hedonisme
berasal dari bahasa Yunani "hedone" yang berarti nikmat, kesenangan.
Hedonisme adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa manusia hendaknya hidup
sedemikian rupa agar mencapai kenikmatan dan kesenangan.Menurut paham ini,
manusia bagaimanapun akan menghindari penderitaan dan hanya mencari kenikmatan
dalam hidupnya. Paham hedonisme sudah muncul sejak abad 4 SM oleh Aristippos
(433-355SM). Menurutnya tujuan akhir manusia adalah mencapai kesenangan
badaniah belaka. Sedangkan Epikuros (341-210 SM) menekankan kesenangan badan
dan jiwa sebagai tujuan kehidupan manusia.
Paham hedonisme
masih sangat populer hingga saat ini. Banyak orang mencari kesenangan karena
banyak tawaran kenikmatan yang menggoda. dimana-mana semakin banyak orang
memilih sesuatu yang bersifat instan dan mudah sehingga tidak perlu menempuh
sesuatu yang sulit dan memerlukan proses, karena hal itu merupakan penderitaan.
Pandangan hidup yang
menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup.
Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran
merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau
tidak.
2.
Macam-macam Hedoniseme
Faham hedonisme ini tebagi menjadi 2 bagian, yakni:
1)
Hedonisme psikologis
Faham ini berpandangan bahwa semua tindakan diarahkan
untuk mencapai kenikmatan dan menghindari penderitaan. Pandangan ini
mendasarkan diri pada teori yang mengatakan bahwa manusia bagaimanapun juga
selalu hanya akan mencari kenikmatan dan menghindari perasaan yang tidak enak.
Teori ini berbicara mengenai motivasi dasar manusia yang hanya mencari nikmat.
Manusia sebenarnya menipu diri sendiri dan mengira tindakannya itu suci.
Dalam psikologi biasanya dibedakan antara tindakan
manusia yang didorong oleh motivasi tak sadar, yang biasanya berlangsung secara
spontan untuk mempertahankan hidup, dan hal ini tidak bisa direduksi kepada
perasaan nikmat atau senang. Instinct untuk mempertahankan hidup merupakan
sesuatu yang jauh lebih luas dan mendasar daripada hanya sekedar perasaan
nikmat atau senang.
2)
Hedonisme etis
Faham ini berpandangan bahwa semua tindakan ‘harus’ ditujukan
kepada kenikmatan dan menghindari penderitaan. Adalah etika yang membuat
pencarian kebahagiaan menjadi prinsip yang paling dasar. Manusia hendaknya
hidup sedemikian rupa sehingga dia dapat semakin bahagia. Pertimbangan
yang mendasarinya adalah bahwa kebahagiaan merupakan tujuan pada diri
sendiri. Orang yang sudah bahagia tidak memerlukan apa-apa lagi, maka ia harus
mencari perasaan-perasaan yang menyenangkan sebanyak mungkin dan menghindari
perasaaan yang tidak enak.
B. Hedonisme dalam Perspektif Islam
Faham hedonisme yang
amat sangat mementingkan kesenangan semata dengan cara apapun kesenangan itu
didapatkan dan amat sangat menghindari penderitaan sangat bertolak belakang
dengan faham Islam. Bukan berarti Islam melarang umat manusia merasa senang
atau mencari kesenangan tapi jika hanya kesenangan saja yang dicari didunia ini,
maka umat Islam akan lupa fitrahnnya didunia ini adalah untuk ibadah kepada
Allah SWT. Adanya sikap menghindari penderitaan akan membawa manusia pada sikap
menjauhi ajaran Islam itu sendiri, sebab Islam menekankan pada kesederhanaan
dan pencarian kebahagiaan itu bukan berupa fisik atau materi.
Ketika manusia
memegang faham hedonisme maka mereka akan terjerumus pada sikap cinta dunia (hubbuddunya) yang justru harus
dihindari oleh umat Islam karena akan membawa mereka pada perasaan takut mati,
sebab takut kehilangan harta bendanya atau kesenangan duniawi mereka yang tidak
akan ditemui didalam kubur. Orang yang berfikiran hedonisme juga tentunya akan
berlaku konsumtif untuk memenuhi rasa kesenangannya. Dalam hal ini juga
bertolak belakang dengan Islam yang mengjarkan sikap sederhana, tidak
berlebih-lebihan dan apa adanya.
Orang-orang ini
bisa saja terjerumus pada sikap boros karena memenuhi keingnan mereka, yang
dalam Islam justru mesti dihindari, yakni pelarangan isrof atau sikap boros dan berlebih-lebihan. Seperti dalam ayat al
Quran berikut ini:
وكلوا واشربوا
ولاتسرفوا إنّهُ لا يحبّ المسرفين
Artinya:
“Dan makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al ‘Arof : 31)
واتوا حقّه يوم
حصاده ولاتسرفوا إنّه لايحبُّ المسرفين
Artinya:
“…dan
tunaikanlah haknya di hari saat memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya);
dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al An’am : 141)
Para ulama pun sepakat berpendapat bahwa boros adalah
sikap yang dilarang oleh Islam. Seperti Atho’ bin Abi Robah mengatakan “Mereka
dilarang belaku boros dalam hal apapun”. Ayat berikuntnya juga memperkuat
pelarangan sikap boros dan mencari kesenangan semata.
انّ المبذرين كانوا
إخوان الشيطان وكان الشيطان لربّه كفوراً
Artinya:
“Sesungguhnya
pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan dan syetan itu adalah
sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al Isro’ : 27).
Ayat ini mempertegas bahwa hedonisme juga bisa
menjadikan seseorang berbuat tabzir, yakni mempergubakan harta bukan pada
tempatnya, seperti penyaluran harta dalam kemaksiatan atau menyalurkannya pada
perkara yang tidak bermanfaat baik untuk kesenangan semata maupun meremehkan
fungsi harta itu sendiri.
Jelas sudah bahwa hedonisme bisa menjadikan seseorang
bersikap boros sehingga banyak memubazirkan harta bendanya hanya untuk
kesenangan semata. Padahal itu tidak memberikan manfaat apa-apa bagi dirinya.
Tentu Islam melarang sikap ini.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah membahas
pengertian hedonisme dan pandangan Islam terhadap hedonisme itu sendiri, maka
kita dapat menarik kesimpulan bahwa hedonisme banyak memberikan dampak yang
buruk terhadap sikap individu, sehingga harus dihindari. Seseorang jika sudah
menganut hedonisme maka akan banyak melakukan kesia-siaan terhadap harta yang
dimilikinya hanya untuk memenuhi hasratnya mencapai kesenangan. Berlaku
konsumtif, boros, memubazirkan harta bendanya, semua itu hanya demi kesenangan
yang akan membawanya pada sifat hubbuddunya yang sangat dibenci Allah karena
orang tersebut akan takut mati, takut kehilangan harta benda dan kesenangan
duniawinya.
B. Saran
Pada akhirnya penulis
menyarankan agar setiap umat Islam menghindari faham hedonisme yang akan
membuat kita menyia-nyiakan segala sesuatu hanya untuk mencari kesenangan
duniawi yang bersifat sementara. Tentunya kita semua umat Islam tidak ingin
dibenci oleh Allah. Maka, sebisa mungkin hindari sikap konsumtif.
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, Sarlito Wirawan. 1999. Psikologi
Sosial, Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
Bertens, K. 1993. Etika.
Jakarta: PT. Gramedia Psutaka Utama.
Windriani, Nilam. Psikologi
Populer, Membangun Hubungan Antar Manusia. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Jumantoro, Totok. 2001. Psikologi
Dakwah Dengan Aspek-aspek Kejiwaan yang Qur’ani. Jakarta: Amzah.
Taufiq, Izzuddin Muhammad. 2006. Panduan
Lengakap dan Praktis Psikologi Islam. Jakarta: Gema Insani Press.
No comments :
Post a Comment