DAMPAK NEGATIF TELEVISI TERHADAP REMAJA
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi masa kini semakin pesat,
sehingga banyak dampak yang ditimbulkan baik positif dan negatif, secara
langsung maupun tidak langsung. Terutama yang menjadi sorotan tulisan saya saat
ini, yakni dampak negatif terhadap perkembangan remaja saat ini.
Tampilan-tampilan yang disuguhkan oleh televisi seakan
memberikan contoh dan mendapat tempat tersendiri dikalangan remaja. Situasi ini
seakan tidak lagi bisa ditawar.
B. Tujuan
Adapun saya memilih kasus ini untuk diteliti dengan
tujuan:
Ø
Dapat mengetahui apa saja dampak negatif yang
ditimbulkan oleh televisi.
Ø
Dapat memahami pribadi negatif remaja masa kini.
Ø
Mengetahui apa saja yang bisa dilakukan untuk
meminimalisir dampak negatif tersebut.
C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang saya ambil sebagai batasan
masalah adalah sebagai berikut:
Ø
Apakah yang dimaksud dengan remaja?
Ø
Apa definisi televisi?
Ø
Apa saja dampak negatif televisi terhadap
perilaku remaja?
D. Manfaat Penulisan
Tulisan ini dibuat berharap bisa memberikan manfaat sebagai berikut:
Ø Dapat
memberikan pencerahan bagi pembaca terhadap dampak negatif dari televisi pada
remaja.
Ø Dapat
memberikan solusi tentang bagaimana menyikapi dampak negatif dari telivisi pada
kalangan remaja.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Remaja
Remaja adalah waktu manusia
berumur belasan tahun.
Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat
pula disebut anak-anak.
Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja
merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara
umur 12 tahun sampai 21 tahun.[1]
Remaja menurut
WHO, yakni masa dimana:
Ø
Individu
berkembang darisaat pertma kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya
sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
Ø
Individu
mengalami perkembangan psikolgik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi
dewasa.
Ø
Terjadi
peralihan dari ketergantungan social ekonomi yang penuh kepada keadaan yang
relatif lebih mandiri.[2]
Namun, Indonesia
memiliki definisi tersendiri untuk definisi remaja yakni membatasi usia remaja
dari usia 14-24 tahun yang dikemukakan Sensus Penduduk 1980. kemudian baasan
usia tersebut mengalami perubahan menjadi 11-24 tahun dengan beberapa
pertimbangan berikut:
Ø
Usia 11 tahun adalah usia di mana pada umumnya
tanda-tanda seksual sekunder mulai nampak (kriteria fisik).
Ø
Pada banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun
sudah dianggap akil baligh, baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat
tidak lagi memandang sebagai anak-anak (kriteria sosial)
Ø
Pada usia tersebut mualai ada tanda-tanda
penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri (ego identity), tercapainya fase genital
dari perkembangan psikoseksual (Sigmund Freud)
dan tercapainya puncak perkembangan kognitif (Piaget) maupun moral (Kohlberg).
Hal ini dipandang sebagai kriteria psikologik.
Ø
Batas usia 24 tahun merupakan maksimal, yaitu
untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih
menggantungkan diri pada orang tua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang
dewasa (secara adat/tradisi), belum bias memberikan pendapat sendiri dan
sebagainya.
Ø
Status perkawinan juga menentukan, karena arti
dari perkwinan masih sangat penting di masyarakat kita secara menyeluruh.
B. Definisi Televisi
Televisi adalah sebuah media
telekomunikasi terkenal
sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam putih)
maupun warna, ‘Televisi’ juga
dapat diartikan sebagai kotak televisi, acara televisi atau transmisi
televisi. Kata ‘televisi’ merupakan gabungan dari kata tele (τῆλε, jauh) dari bahasa Yunani dan visio
(penglihatan) dari bahasa Latin.
Sehingga televisi dapat diartikan sebagai telekomunikasi yang dapat dilihat
dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini
mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia 'televisi' secara tidak formal
disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.
C. Dampak Negatif Televisi Terhadap Remaja
Adapun beberapa dampak negatif dari televisi secara umum adalah:
1)
Pembodohan kaum
muslimin
Diantara
dampak negatif akibat dari kemajuan sains dan teknologi adalah banyaknya kaum
muslimin yang bodoh dan dibodohkan terhadap perbedaan dan kesamaan dengan
antara yang salah dan benar, sehingga tidak jarang remaja kurang begitu sadar
bahwa mereka mengalami penyimpangan persepsi.
2)
Media penebar
maksiat
Televisi
bisa lebih berbahaya daripada para perampok yang mungkin hanya menjarah harta
dan melukai jiwa mereka, sementara TV lewat acara TV-nya bisa menghancurkan
moral.
3)
Pergeseran
nilai tuntunan menjadi tontonan
Produk
pertelevisian yang paling laris saat ini dan banyak menyedot pemirsa adalah
sinetron religi yang secara umum banyak memunculkan berbagai kontroversi di
dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan sinetron religi banyak mengandung
pelanggaran terhadap syariat, norma dan moral agama. Bahkan, ia menggeser
habis-secara perlahan-peradaban bangsa dan karakter umat. Sehingga tuntunan agama
menjadi tontonan dan tontonan menjadi tuntunan atau pengganti ajaran agama.
Bahkan, keyakinan mereka terhadap akhirat rusak karena terpengaruh oleh
sinetron.
4)
Televisi
melumpuhkan kemampuan berpikir kritis
Dharma
Singh Khalsa, penulis buku ‘Brain Longevity’ adalah seorang dokter yang membuka
praktik latihan mental untuk memelihara usia otak. Ia pernah menceritakan
bahaya menonton TV dalam hubungannya dengan kesehatan otak. TV menjadikan otak
pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis dan merusak terutama sekali
kecerdasan spacial pada otak sebelah kanan. Tetapi bahaya yang paling besar
dari TV ialah mengalihkan perhatian orang dari membaca. Efek TV lainnya yang
menakutkan dan juga efek kesibukan kita yang sibuk, ialah sekarang ini terlalu
sedikit orang yang punya waktu untuk membaca. Membaca, menurut peneliti
neurologis sangat menguntungkan otak. Tentu saja banyak bahan bacaan yang
memperkaya secara intelektual, tetapi semata-mata membaca saja, tidak jadi soal
apa isinya, sangat bermanfaat. Membaca memerlukan keterlibatan aktif pikiran
dan imajinasi. Membaca sangat merangsang kedua belahan otak dan juga sistem
limbik.
5)
Merebaknya
fatamorgana kebebasan
Semakin
melebarnya jurang pemisahan antara urusan ibadah dan dunia. Dimana urusan-urusan
Allah dan Rasul-Nya di onggokkan dalam masjid dan majelis taklim. Sedang hal-hal
dalam aspek kehidupan kita dibiarkan jauh dari wahyu Allah. Banyaknya salah
kaprah tentang hakikat kebebasan.
6)
Benih kekerasan
sebuah
contoh yang saya berikan adalah perkelahian yang tampil di ‘Smackdown’ adalah
pekelahian pura-pura yang direkayasa. Namun yang tampil di layar sangat
realistis. Disinilah masalah muncul. Apakah hasil rekayasa atau sungguhan, apa
yang muncul di layar, yang dilihat oleh penonton, dianggap sesuatu yang
realistis oleh penonton dan ini bisa menimbulkan dampak bagi penonton, yakni
merangsang agresivitas penonton. Terutama bagi anak-anak dan remaja yang belum
kritis menggunakan media, tayangan semacam ini berpotensi untuk membuatnya
meniru aksi-aksi kekerasan yang dilihatnya di layar.
7)
Globalisasi
pornoaksi di Televisi
begitu
mudah sekali saat ini kita melihat tayangan yang berbau pornoaksi dan
pornografi di layar televisi.
8)
Mesin
penggerak identifikasi remaja
TV
menyodorkan berbagai acara untuk menciptakan ketergantungan pada remaja,
sehingga remaja Indonesia
–khususnya- cenderung dipaksa bukan menjadi dirinya melainkan menjadi menurut
kehendak kepentingan TV. Hal ini menjadikan remaja menjadi pribadi-pribadi yang
lentur, tidak mempunyai pengalaman empirik untuk meletakkan empati sosialnya.
Kenyataan sosial disekitarnya telah dikompres oleh media TV dengan mereduksi
kekayaan kemungkinan dan nilai yang terkandungnya. Demikian pula dalam pola
pembentukan tipe idealitas, TV bisa menjadi pelaku atau sekedar agen perantara
bagi munculnya konsep-konsep tertentu. Antara lain, perempuan yang cantik
adalah perempuan yang berkulit putih, berambut panjang, lurus, dsb.
9)
Pembentukan
remaja konsumtif
Kecenderungan
”menggantung” remajat dikarenakan oleh karakter TV yang serba cepat dan serba
baru. Kehidupan reamaja akhirnya di daulat oleh pasar yang hendak diciptakan,
dengan media sebagai perantaranya. Dalam korelasi ini, remaja digantung menjadi
remaja konsumtif.
10) Pendangkalan karakter kepribadian remaja
Bujuk
rayu media seolah menawarkan kebebasan dan kesetaraan. Namun, secara tidak
sadar para remaja masuk melangkahkan kakinya ke dalam kesadaran baru, ke gebyar
kehidupan baru. Perilaku ini sebenarnya sama sekali bukan atas kehendaknya,
melainkan karena proses internalisasi atas teror media yang terus menerus.
Sehingga lama-kelamaan, masyarakat akan mengalami penumpulan, pendangkalan dan
penyederhanaan. Tidak ada tabiat berargumentasi disana karena memang tidak
dibangun. Segala tentang diri remaja tersebut dirujukkan begitu saja pada apa
yang dilihat dari TV.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari bahasan di awal tadi kita
dapat mengetahui bahwa usia remaja adalah masa yang rentan, dimana masa
transisi dari usia anak-anak menjadi remaja. Sebuah situasi yang membutuhkan
perhatian dan pertimbangan baik dari luar yakni orang tua, teman, saudara, dan
lainnya maupun dari diri remaja itu sendiri.
Begitu melekat dibenak para
remaja saat ini yang begitu identik dengan gaya hidup dan tingkah laku yang tidak lepa
dari contoh atau tontonan televisi, ternyata dibalik canggihnya kemajuan
teknologi ada ancaman yang perlu kita waspadai.
Hasil dari tulisan sederhana
saya ini paling tidak sudah menunjukkan bahwa remaja kita saat ini sudah banyak
yang terpengaruh tontonan televisi. Jika dampak televisi saja sudah seperti
ini, bagaimana dengan teknologi yang lebih canggih lagi seperti internet? Maka,
kita harus bersiap siaga mempersiapkan para remaja agar siap mengahadapi
kemajuan teknologi yang pesat ini tanpa terpengaruhi hal-hal negatifnya. Agar
mereka lebih pintar memilah dan memilih yang pantas ditonton dan yang pantas
dijadikan tuntunan.
B. Saran
1)
Jadilah sahabat bagi
remaja
2)
Sampaikan kepada orang
tua remaja untuk tidak bersikap menggurui.
3)
Jangan beranggapan bahwa kita lebih mengetahui sesuatu dibandingkan
dengan remaja.
4)
Berikan kesempatan kepada remaja untuk mengemukakan pandangannya.
5)
Berikan argumen yang jelas dan masuk akal terhadap suatu persoalan (jangan mengatakan ‘pokoknya’ tanpa ada alas an atau penjelasan lebih
lanjut).
6)
Berikan dukungan pada
remaja bila mereka memang patut diberikan dukungan.
7)
Katakan salah jika mereka salah, dengan alasan yang masuk akal
menurut ukuran mereka.
8)
Jadikan mereka sebagai teman diskusi bukan sebagai individu yang
harus diberitahu.
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, Prof. Cr. Sarlito Wirawan. 2004. Psikologi Remaja. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
S.H., Drs. Sudarsono. 1993. Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja. Jakarta. PT. Rineka Cipta.
id.wikipedia.org
No comments :
Post a Comment