Blog Berbagi Informasi

Tuesday, 29 January 2013

Filsafat Dakwah

No comments :

DAMPAK NEGATIF TELEVISI TERHADAP REMAJA


PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang

Perkembangan teknologi masa kini semakin pesat, sehingga banyak dampak yang ditimbulkan baik positif dan negatif, secara langsung maupun tidak langsung. Terutama yang menjadi sorotan tulisan saya saat ini, yakni dampak negatif terhadap perkembangan remaja saat ini.
Tampilan-tampilan yang disuguhkan oleh televisi seakan memberikan contoh dan mendapat tempat tersendiri dikalangan remaja. Situasi ini seakan tidak lagi bisa ditawar.

B.   Tujuan

Adapun saya memilih kasus ini untuk diteliti dengan tujuan:
Ø  Dapat mengetahui apa saja dampak negatif yang ditimbulkan oleh televisi.
Ø  Dapat memahami pribadi negatif remaja masa kini.
Ø  Mengetahui apa saja yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif tersebut.

C.   Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang saya ambil sebagai batasan masalah adalah sebagai berikut:
Ø  Apakah yang dimaksud dengan remaja?
Ø  Apa definisi televisi?
Ø  Apa saja dampak negatif televisi terhadap perilaku remaja?

D.   Manfaat Penulisan

Tulisan ini dibuat berharap bisa memberikan manfaat sebagai berikut:
Ø  Dapat memberikan pencerahan bagi pembaca terhadap dampak negatif dari televisi pada remaja.
Ø  Dapat memberikan solusi tentang bagaimana menyikapi dampak negatif dari telivisi pada kalangan remaja.


BAB II

PEMBAHASAN


A.   Definisi Remaja

Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.[1]
Remaja menurut WHO, yakni masa dimana:
Ø  Individu berkembang darisaat pertma kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
Ø  Individu mengalami perkembangan psikolgik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
Ø  Terjadi peralihan dari ketergantungan social ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif  lebih mandiri.[2]
Namun, Indonesia memiliki definisi tersendiri untuk definisi remaja yakni membatasi usia remaja dari usia 14-24 tahun yang dikemukakan Sensus Penduduk 1980. kemudian baasan usia tersebut mengalami perubahan menjadi 11-24 tahun dengan beberapa pertimbangan berikut:
Ø  Usia 11 tahun adalah usia di mana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai nampak (kriteria fisik).
Ø  Pada banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil baligh, baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi memandang sebagai anak-anak (kriteria sosial)
Ø  Pada usia tersebut mualai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri (ego identity), tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual (Sigmund Freud) dan tercapainya puncak perkembangan kognitif (Piaget) maupun moral (Kohlberg). Hal ini dipandang sebagai kriteria psikologik.
Ø  Batas usia 24 tahun merupakan maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang tua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara adat/tradisi), belum bias memberikan pendapat sendiri dan sebagainya.
Ø  Status perkawinan juga menentukan, karena arti dari perkwinan masih sangat penting di masyarakat kita secara menyeluruh.

B.   Definisi Televisi

Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam putih) maupun warna, ‘Televisi’ juga dapat diartikan sebagai kotak televisi, acara televisi atau transmisi televisi. Kata ‘televisi’ merupakan gabungan dari kata teleλε, jauh) dari bahasa Yunani dan visio (penglihatan) dari bahasa Latin. Sehingga televisi dapat diartikan sebagai telekomunikasi yang dapat dilihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia 'televisi' secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.

C.   Dampak Negatif Televisi Terhadap Remaja

Adapun beberapa dampak negatif dari televisi secara umum adalah:
1)      Pembodohan kaum muslimin
Diantara dampak negatif akibat dari kemajuan sains dan teknologi adalah banyaknya kaum muslimin yang bodoh dan dibodohkan terhadap perbedaan dan kesamaan dengan antara yang salah dan benar, sehingga tidak jarang remaja kurang begitu sadar bahwa mereka mengalami penyimpangan persepsi.

2)      Media penebar maksiat
Televisi bisa lebih berbahaya daripada para perampok yang mungkin hanya menjarah harta dan melukai jiwa mereka, sementara TV lewat acara TV-nya bisa menghancurkan moral.

3)      Pergeseran nilai tuntunan menjadi tontonan
Produk pertelevisian yang paling laris saat ini dan banyak menyedot pemirsa adalah sinetron religi yang secara umum banyak memunculkan berbagai kontroversi di dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan sinetron religi banyak mengandung pelanggaran terhadap syariat, norma dan moral agama. Bahkan, ia menggeser habis-secara perlahan-peradaban bangsa dan karakter umat. Sehingga tuntunan agama menjadi tontonan dan tontonan menjadi tuntunan atau pengganti ajaran agama. Bahkan, keyakinan mereka terhadap akhirat rusak karena terpengaruh oleh sinetron.

4)      Televisi melumpuhkan kemampuan berpikir kritis
Dharma Singh Khalsa, penulis buku ‘Brain Longevity’ adalah seorang dokter yang membuka praktik latihan mental untuk memelihara usia otak. Ia pernah menceritakan bahaya menonton TV dalam hubungannya dengan kesehatan otak. TV menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis dan merusak terutama sekali kecerdasan spacial pada otak sebelah kanan. Tetapi bahaya yang paling besar dari TV ialah mengalihkan perhatian orang dari membaca. Efek TV lainnya yang menakutkan dan juga efek kesibukan kita yang sibuk, ialah sekarang ini terlalu sedikit orang yang punya waktu untuk membaca. Membaca, menurut peneliti neurologis sangat menguntungkan otak. Tentu saja banyak bahan bacaan yang memperkaya secara intelektual, tetapi semata-mata membaca saja, tidak jadi soal apa isinya, sangat bermanfaat. Membaca memerlukan keterlibatan aktif pikiran dan imajinasi. Membaca sangat merangsang kedua belahan otak dan juga sistem limbik.

5)      Merebaknya fatamorgana kebebasan
Semakin melebarnya jurang pemisahan  antara urusan ibadah dan dunia. Dimana urusan-urusan Allah dan Rasul-Nya di onggokkan dalam masjid dan majelis taklim. Sedang hal-hal dalam aspek kehidupan kita dibiarkan jauh dari wahyu Allah. Banyaknya salah kaprah tentang hakikat kebebasan.

6)      Benih kekerasan
sebuah contoh yang saya berikan adalah perkelahian yang tampil di ‘Smackdown’ adalah pekelahian pura-pura yang direkayasa. Namun yang tampil di layar sangat realistis. Disinilah masalah muncul. Apakah hasil rekayasa atau sungguhan, apa yang muncul di layar, yang dilihat oleh penonton, dianggap sesuatu yang realistis oleh penonton dan ini bisa menimbulkan dampak bagi penonton, yakni merangsang agresivitas penonton. Terutama bagi anak-anak dan remaja yang belum kritis menggunakan media, tayangan semacam ini berpotensi untuk membuatnya meniru aksi-aksi kekerasan yang dilihatnya di layar.

7)      Globalisasi pornoaksi di Televisi
begitu mudah sekali saat ini kita melihat tayangan yang berbau pornoaksi dan pornografi di layar televisi.

8)       Mesin penggerak identifikasi remaja
TV menyodorkan berbagai acara untuk menciptakan ketergantungan pada remaja, sehingga remaja Indonesia –khususnya- cenderung dipaksa bukan menjadi dirinya melainkan menjadi menurut kehendak kepentingan TV. Hal ini menjadikan remaja menjadi pribadi-pribadi yang lentur, tidak mempunyai pengalaman empirik untuk meletakkan empati sosialnya. Kenyataan sosial disekitarnya telah dikompres oleh media TV dengan mereduksi kekayaan kemungkinan dan nilai yang terkandungnya. Demikian pula dalam pola pembentukan tipe idealitas, TV bisa menjadi pelaku atau sekedar agen perantara bagi munculnya konsep-konsep tertentu. Antara lain, perempuan yang cantik adalah perempuan yang berkulit putih, berambut panjang, lurus, dsb.

9)      Pembentukan remaja konsumtif
Kecenderungan ”menggantung” remajat dikarenakan oleh karakter TV yang serba cepat dan serba baru. Kehidupan reamaja akhirnya di daulat oleh pasar yang hendak diciptakan, dengan media sebagai perantaranya. Dalam korelasi ini, remaja digantung menjadi remaja konsumtif.

10)  Pendangkalan karakter kepribadian remaja
Bujuk rayu media seolah menawarkan kebebasan dan kesetaraan. Namun, secara tidak sadar para remaja masuk melangkahkan kakinya ke dalam kesadaran baru, ke gebyar kehidupan baru. Perilaku ini sebenarnya sama sekali bukan atas kehendaknya, melainkan karena proses internalisasi atas teror media yang terus menerus. Sehingga lama-kelamaan, masyarakat akan mengalami penumpulan, pendangkalan dan penyederhanaan. Tidak ada tabiat berargumentasi disana karena memang tidak dibangun. Segala tentang diri remaja tersebut dirujukkan begitu saja pada apa yang dilihat dari TV.


BAB III

PENUTUP


A.   Kesimpulan

Dari bahasan di awal tadi kita dapat mengetahui bahwa usia remaja adalah masa yang rentan, dimana masa transisi dari usia anak-anak menjadi remaja. Sebuah situasi yang membutuhkan perhatian dan pertimbangan baik dari luar yakni orang tua, teman, saudara, dan lainnya maupun dari diri remaja itu sendiri.
Begitu melekat dibenak para remaja saat ini yang begitu identik dengan gaya hidup dan tingkah laku yang tidak lepa dari contoh atau tontonan televisi, ternyata dibalik canggihnya kemajuan teknologi ada ancaman yang perlu kita waspadai.
Hasil dari tulisan sederhana saya ini paling tidak sudah menunjukkan bahwa remaja kita saat ini sudah banyak yang terpengaruh tontonan televisi. Jika dampak televisi saja sudah seperti ini, bagaimana dengan teknologi yang lebih canggih lagi seperti internet? Maka, kita harus bersiap siaga mempersiapkan para remaja agar siap mengahadapi kemajuan teknologi yang pesat ini tanpa terpengaruhi hal-hal negatifnya. Agar mereka lebih pintar memilah dan memilih yang pantas ditonton dan yang pantas dijadikan tuntunan.

B.   Saran

1)      Jadilah sahabat bagi remaja
2)      Sampaikan kepada orang tua remaja untuk tidak bersikap menggurui.
3)      Jangan beranggapan bahwa kita lebih mengetahui sesuatu dibandingkan dengan remaja.
4)      Berikan kesempatan kepada remaja untuk mengemukakan pandangannya.
5)      Berikan argumen yang jelas dan masuk akal terhadap suatu persoalan (jangan mengatakan ‘pokoknya’ tanpa ada alas an atau penjelasan lebih lanjut).
6)      Berikan dukungan pada remaja bila mereka memang patut diberikan dukungan.
7)      Katakan salah jika mereka salah, dengan alasan yang masuk akal menurut ukuran mereka.
8)      Jadikan mereka sebagai teman diskusi bukan sebagai individu yang harus diberitahu.


DAFTAR PUSTAKA


Sarwono, Prof. Cr. Sarlito Wirawan. 2004. Psikologi Remaja. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
S.H., Drs. Sudarsono. 1993. Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja. Jakarta. PT. Rineka Cipta.
id.wikipedia.org

[1] www.wikipedia.org
[2] WHO (Muangman, 1980 : 9)

No comments :

Post a Comment