MENITI KESEMPURNAAN IMAN
KATA PENGANTAR
Bismillahirahman rahim, segala puji bagi Allah Azza Wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam yang menyeru sekalian hati hamba-Nya untuk selalu turut serta dalam samudera makrifat hingga tenggelam dalam kecintaan kepada-Nya.
Shalawat serta salam atas Al-Mustafa Sayyidina Muhammad saw jadilah abadi padanya, keluarganya
dan seluruh sahabatnya.
Telah banyak permintaan dari saudara-saudarikita untuk membahas lebih lanjut seputar permasalahan khilafiyah semacam kegiatan Maulid, Tahlil, Ziarah Kubur, Dzikir, Yassin dan beberapa hal ubudiyah
lainnya yang menurut sebahagian dari saudara kita dipungkiri kebenarannya.
Buku yang diberi judul “Meniti Kesempurnaan Iman” ini berisikan sanggahan atas buku “Benteng Tauhid” karya Syekh Abdullah Bin Baaz.
Pada akhirnya adalah kewajiban bagi kita untuk selalu menyeru dan menyeru atas mereka siapapun mereka selama mereka keturunan Adam as untuk terus mengenal indahnya keagungan islam sebagai akhlaq, pedoman hidup dan aqidah. wallahu a’lam.
Dengan segala kerendahan hati, saya berharap agar kehadiran buku ini dapat turut serta memperkaya khazanah keislaman kita.
Walillahitaufiq,
(Munzir Almusawa)
1. Pernyataan Abdullah bin Baz bahwa Istighatsah itu syirik.
Dan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi Saw ditanya “Dosa apakah yang paling besar?”, beliau menjawab “(dosa yang paling besar) ialah kamu menjadikan (Tuhan) tandingan bagi Allah, padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu”.
Maka setiap orang yang menyeru selain Allah atau beristighatsah, bernadzar, menyembelih dan memberikan sesuatu dari jenis ibadah kepada selain Allah berarti ia telah menjadikannya sebagai tandingan bagi Allah, baik ia seorang Nabi, Wali, Malaikat, Jin, Berhala maupun makhluk – makhluk lainnya.
Adapun meminta tolong kepada seseorang yang masih hidup serta hadir untuk melakukan sesuatu yang dalam batas kemampuannya, tidaklah termasuk perbuatan syirik. Akan tetapi itu merupakan hal–hal biasa yang boleh dilakukan sesama kaum muslimin. Sebagaimana yang diabadikan Allah dalam kisah Nabi Musa.
“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya” QS. Al Qashash: 15.
Dan dalam ayat lain tentang Musa, Allah berfirman: “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu – nunggu dengan khawatir” QS. Al Qashash: 21.
Atau sebagaimana seseorang meminta bantuan teman – temannya dalam peperangan atau dalam situasi – situasi sulit lainnya, dimana sebagian orang membutuhkan bantuan sebagian yang lain.
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan Nabi-Nya Swt untuk memaklumkan kepada umat manusia bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan mudharat. Allah Swt berfirman:
“Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya”. Katakanlah “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan” QS. Al Jin: 20-21.
Dan dalam surat Al A’raaf, Allah berfirman “Katakanlah “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak – banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang – orang yang beriman” QS. Al A’raaf: 188.
Dan banyak lagi ayat – ayat yang semakna dengannya.
Nabi Saw tidak berdoa kecuali kepada Tuhannya dan tidak meminta pertolongan melainkan kepada-Nya. Ketika perang Badr, beliau (saw) memohon bantuan (istighatsah) dan pertolongan untuk mengalahkan musuhnya kepada Allah Swt. Tidak henti – hentinya beliau (saw) memohon dan bermunajat kepada Allah seraya berkata
“Wahai Tuhanku! Tunaikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku!”, sampai – sampai Abu Bakar As-Shiddiq merasa belas kasihan kepadanya dan berkata “Cukuplah sudah, wahai Rasulullah engkau bermunajat kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Allah pasti akan menepati janji-Nya kepadamu”.
Lalu Allah menurunkan firman-Nya: “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut – turut”. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” QS. Anfaal: 9-10.
Di dalam ayat – ayat ini, Allah mengingatkan mereka saat mereka memohon bantuan kepada-Nya.
Kemudian Allah mengabarkan bahwa Dia telah mengabulkan permintaan mereka dengan mengirim bala bantuan malaikat – malaikat.
Kemudian Dia menjelaskan bahwa kemenangan yang mereka raih itu bukan karena bantuan malaikat itu, akan tetapi hanya sekedar untuk menentramkan hati mereka dengan kemenangan itu datangnya dari sisi Allah. dan di dalam surat Ali Imran, Allah Swt berfirman:
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badr, padahal kamu adalah (ketika itu) orang – orang yang lemah. Karena itu bertawakkal kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” QS. Ali Imran: 123.
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa Dialah Sang Penolong mereka pada hari peperangan Badr. dengan demikian, diketahui bahwa apa yang diberikan-Nya kepada mereka berupa keselamatan, kekuatan dan bala bantuan malaikat, semua itu hanyalah sebagai sebab (sarana yang diberikan Allah) untuk mendapatkan kemenangan, kegembiraan dan ketentraman.
Dan pada hakikatnya kemenangan itu bukan karena sebab – sebab itu, akan tetapi berasal dari Allah semata.
Oleh sebab itu, bagaimana mungkin penulis wanita ini dan selainnya menunjukkan permohonan bantuan dan pertolongan kepada Nabi Saw dan berpaling dari Tuhan semesta alam, Yang Maha Memiliki dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu?! Tidak diragukan lagi, ini adalah kebodohan yang nista bahkan merupakan syirik besar.
Tanggapan Habib Munzir Al Musawa tentang Istighasah baca DI SINI



No comments :
Post a Comment