|
Penjelasan
Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian 14
Makna Kalimat سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
Senin, 1 April 2013
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا
لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ
وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ
مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ
دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي
هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ
قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ
اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Maha
Suci Allah Yang Maha melihat dan memanatu setiap lintasan pemikiran
hamba-hambaNya, Yang Maha Mengetahui jumlah hari-hari yang tersisa bagi
setiap hamba-hambaNya, Maha Mengetahui jumlah nafas hamba-hambaNya sejak
dilahirkan hingga mereka wafat, dimana kita semua tidak mengetahui akan hal
itu, tidak mengetahui akan jumlah siang yang tersisa dalam kehidupan kita,
dan berapa jumlah malam yang tersisa dalam kehidupan kita, tidak mengetahui
berapa jumlah nafas yang telah lewat serta nafas yang masih tersisa, tidak
mengetahui pula kapan berakhirnya nafas kita, dan semoga berakhir dalam
kemuliaan khusnul khatimah, amin allahumma amin.
Maha
Suci Allah Yang Maha mensucikan hamba-hambaNya, sehingga diberikanlah kepada
mereka sedemikian banyak bentuk ibadah dan berbagai macam amal baik secara
zhahir atau bathin, agar kita sampai pada kehidupan yang abadi dalam
kebahagiaan serta dijauhkan dari kesulitan dan kesedihan, sehingga dalam
kehidupan di dunia dan setiap nafas kita tiada henti-hentinya dicatat oleh
malaikat Munkar dan Nakir, dimana jika seseorang memiliki azam (keinginan)
untuk berbuat baik maka telah ditulis pahala baginya sebelum ia berbuat, dan
jika ia melakukannya maka pahala amal baik tersebut dilipatgandakan menjadi
10 kali lipat hingga 700 kali lipat.Namun jika seseorang berniat untuk
berbuat buruk, maka tidak dituliskan baginya dosa kecuali setelah ia
melakukannya, yang mana jika ia melakukannya maka ia akan mendapatkan satu
balasan dosa dan tidak dilipatgandakan seperti balasan seseorang yang berniat
untuk berbuat baik, disinilah makna keadilan Allah subhanahu wata’ala Yang
Maha Adil dengan kebijaksanaan yang indah dan penuh kasih sayang.
Dimana
keadilan yang berlaku dianatara sesama makhluk adalah memberi balasan atas
kebaikan yang dilakukan dengan balasan yang setara, namun keadilan Allah
subhanahu wata’ala adalah dengan memberi satu balasan atas satu perbuatan
dosa, dan memberi pahala 10 kali hingga 700 kali lipat atau lebih untuk satu
perbuatan baik, dimana jika seorang hamba muncul dalam dirinya keinginan
untuk berbuat buruk maka malaikat tidak diperintah untuk mencatatnya hingga
ia melakukannya yang kemudian ditulis dengan satu dosa, namun jika seorang
hamba berkeinginan berbuat baik maka diperintah untuk ditulis dengan 10
pahala hingga 700 pahala bahkan lebih yang mana hal itu tergantung akan
kemuliaan niat tersebut.
Sebagaimana
hadir majelis di tempat ini minimal akan mendapatkan pahala 10 kali lipat,
seperti bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau
berdzikir dan lainnya pahala perbuatan itu bisa mencapai 10 hingga 700 kali
lipat bahkan lebih, dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Adil
dengan kelembutan, Yang telah berfirman dalam hadits qudsi :
إِنَّ رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبِي
“
Sesungguhnya rahmatKu (kasih sayangKu) mengalahkan kemurkaanKu”
Maka hal
apa yang telah membuat kita tidak meninggalkan perbuatan dosa atau perbuatan
yang dilarang dan dihinakan Allah subhanahu wata’ala, serta menghindari dan
meninggalkan hal-hal yang telah diperintah oleh Allah subhanahu wata’ala,
sedangkan Allah subhanahu wata’ala telah berlemah lembut dan berkasih sayang
kepada hamba-hambaNya, bahkan bagi mereka yang telah banyak berbuat dosa diantara
mereka wafat dalam keadaan husnul khatimah yang disebabkan karena ia sering
hadir di majelis dzikir, namun hadir di majelis dzikir tentunya bukan berarti
hal itu akan menutup semua dosa sehingga seseorang tidak perlu melakukan
ibadah yang lainnya, justru kehadiran di majelis ta’lim atau di majelis dzkir
dan shalawat, hal itu akan membangkitkan keinginan kita untuk semakin banyak
berbuat baik, serta melemahkan keinginan kita untuk berbuat buruk, sehingga
menjadikannya semakin dekat kepada Yang Maha Dekat, Allah subhanahu wata’ala.
Hadirin
yang dimuliakan Allah, Di bulan Jumadil Awal ini kita mengingat peristiwa
perang Mu’tah yang terjadi pada tahun ke-8 H, sebagaimana hadits yang kita
baca bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan 3000 pasukan
muslimin yang dipimpin oleh sayyidina Zaid Bin Haritsah untuk menuju ke
wilayah Mu’tah, yang saat ini termasuk ke dalam wilayah Yordan, sekitar 3
atau 4 jam dari arah Amman Jordan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam menyampaikan bahwa jika sayyidina Zaid bin Haritsah wafat, maka
bendera perang akan dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib (kakak sayyidina Ali
bin Abi Thalib kw), dan jika Ja’far wafat maka bendera perang (kepemimpinan)
akan dipegang oleh Abdullah bin Rawahah”.
Maka
berangkatlah 3000 pasukan muslimin menuju medan Mu’tah, dan ketika mereka
akan meninggalkan benteng kota Madinah, yang diiringi oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasalla dan para sahabat yang tidak berangkat ke medan
Mu’tah, ketika telah keluar dari benteng Madinah maka sayyidina Abdullah bin
Rawahah berbalik arah dengan kudanya, sehingga orang-orang yang melihatnya
merasa heran dan kaget, karenan mundur dari jihad adalah sesuatu yang sangat
tercela dan hina, kemudian setelah ia berbalik arah dan kembali ke benteng
Madinah lalu ia turun dari kudanya lantas mendekati dan memeluk Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pamit kepada beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam, kemudian ia kembali menaiki kudanya lalu menyusul pasukan muslimin.
Kemudian
para sahabat bertanya kepada sayyidina Abdullah bin Rowahah mengapa ia
berbalik arah dan kembali ke benteng Madinah, maka ia menjawab : “Aku
kembali ke Madinah untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan
memeluk serta mencium beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, karena aku
berfirasat bahwa aku tidak akan kembali ke Madinah Al Munawwarah dan akan
meninggal syahid di medan Mu’tah”.
Kemudian
mereka pun berangkat dan ketika sampai di suatu tempat (Balqa’), kelompok
muslimin mengirim utusan untuk memantau dan mengetahui kekuatan musuh dari
pasukan Romawi yang sedang merapat di pantai dan menuju ke medan Mu’tah, dan
saat itu disampaikan bahwa jumlah pasukan Romawi yang berkuda dengan memakai
baju besi dan dengan persenjataan dan lengkap mereka berjumlah 100.000 pasukan,
serta diikuti oleh kabilah-kabilah lainnya yang mana mereka juga memusuhi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga para sahabat berselisih
pendapat yang mana diantara mereka memilih untuk mundur sebab jumlah pasukan
musuh yang sangat banyak, dan diantara mereka berkata untuk mengirimkan surat
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan hal tersebut
kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dan apa yang harus mereka perbuat
apakah terus maju atau memilih mundur, namun sahabat yang lain berkata untuk
menyampaikan kabar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta
beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengirim pasukan tambahan, sehingga
sayyidina Abdullah bin Rawahah berkata bahwa keberangkatan kaum muslimin ke
medan Mu’tah bukan dengan tujuan untuk kalah atau menang, namun dikarenakan
hal itu adalah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, syahid di
medan perang atau kembali dengan kemenangan, mendengar ucapan tersebut para
sahabat pun terdiam kemudian mereka berangkat melanjutkan perjalanan ke medan
Mu’tah untuk menghadapi 100.000 pasukan Romawi dan kabilah-kabilah lainnya.
Di saat
itu sayyidina Zaid bin Haritsah adalah pemimpin peperangan yang pertama,
mulai maju dan terus menyerang dan menghantam musuh semampunya, namun belum
tiba waktu dhuha ia pun jatuh terbunuh, yang kemudian bendera peperangan
diambil oleh sayyidina Ja’far bin Abi Thalib sebagaimana perintah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia pun terus maju melawan musuh. Sayyidina
Ja’far adalah seorang yang sangat hebat dan memiliki keahlian dalam
peperangan, sehingga tidak ada dari pasukan Romawi atau kabilah-kabilah yang
mendekat kepadanya kecuali akan terlempar kepalanya. Sehingga pasukan romawi
kebingungan menghadapi sayyidina Ja’far yang menjadi pemimpin perang di saat
itu karena ketangkasannya yang luar biasa, kemudian mereka berusaha membuat
jebakan untuk sayyidina Ja’far bin Abi Thalib yaitu dengan membuka dan
memberi jalan agar sayyidina Ja’far menuju ke tengah-tengah pasukan Romawi,
lalu ketika sayyidina Ja’far sampai di tengah-tengah pasukan maka mereka
mengepung sayyidina Ja’far bin Abi Thalib, namun demikian beliau terus
berputar dan melawan musuh-musuh dengan pedangnya, dan dalam keadaan itu pun
tetap tidak ada seorang pun dari pasukan Romawi atau kabilah-kabilah lainnya
yang mendekat kepada sayyidina Ja’far bin Abi kecuali kepala mereka akan
terlepas dari jasadnya.
Lalu
mereka membuat siasat baru yaitu dengan menjauh dari sayyidina Ja’far bin Abi
Thalib dan hanya melemparinya dengan panah dan tombak dari kejauhan, sehingga
beliau mendapati serangan panah atau tombak dari segala penjuru, namun beliau
tetap melawan serangan-serangan tersebut dan tidak ada satu panah atau satu
tombak pun yang mengenai tubuh beliau dari arah depan karena beliau dapat
menangkisnya, namun beliau tidak bisa menangkis serangan yang datang dari
arah belakang, sehingga di saat itu sayyidina Ja’far mulai merasa lemah
karena serangan anak panah atau tombak sebanyak kurang lebih 99 tusukan yang
mengenai punggung beliau akan tetapi beliau masih tetap tegak di atas
kudanya, maka ketika itu beliau mulai mencari sayyidina Abdullah bin Rowahah
untuk menyerahkan bendera perang kepadanya, sebagaimana perintah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, namun setelah pasukan musuh mengetahui bahwa
sayyidina Ja’far mulai melemah maka pasukan musuh pun menyerangnya dengan
pedang kemudian memotong tangan sayyidina Ja’far bin Abi Thalib, namun karena
beliau tidak ingin melepas pedang yang di tangannya dan tidak juga mau
melepas bendera perang dari tangannya maka ia pun mengapit bendera itu dengan
tangannya yang telah terpotong, dan ia terus berperang melawan musuh sampai
akhirnya kudanya terjatuh karena telah lemah dan kehabisan kekuatan sebab
banyaknya serangan ke arahnya, maka sayyidina Ja’far bin Abi Thalib pun
berperang tanpa menunggangi kuda, dan pasukan musuh terus menyerangnya hingga
akhirnya memotong lagi tangan sayyidina Ja’far bin Abi Thalib, sehingga ia
harus memilih antara melepas pedang atau melepas bendera perang, dan beliau
memilih untuk melepaskan pedang daripada melepas panji sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga beliau mengapit bendera itu ke dada
beliau dengan kedua tangannya yang terpotong sampai ke siku, lalu beberapa
saat kemudian pasukan musuh memotong kepala beliau namun tubuh itu tetap
tegak memeluk panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kedua
tangan yang telah terpotong dan kepala yang telah terlepas dari tubuhnya, dan
setelah bendera itu diambil oleh sayyidina Abdullah bin Rowahah maka tubuh
itu pun terjatuh ke bumi, sebab tubuh itu tidak rela jika panji Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam terjatuh ke bumi, maka sayyidina Abdullah bin
Rowahah kembali melanjutkan peperangan namun tidak lama kemudian beliau pun
wafat dalam peperanga tersebut.
Dan di
saat itu telah banyak serangan dan hantaman yang dilakukan oleh sayyidina
Zaid bin Haritsah yang pertama memimpin peperangan, yang kemudian dilanjutkan
oleh sayyidina Ja’far bin Abi Thalib, kemudian dilanjutkan oleh sayyidina
Abdullah bin Rowahah. Ketiga pemimpin peperangan yang telah disebutkan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kesemuanya telah wafat, maka dalam
keadaan demikian kaum muslimin saling memandang siapakah yang akan menjadi
pemimpin perang setelah ketiga pemimpin itu wafat, dan mereka menunjuk
sayyidina Khalid Ibn Al Walid untuk memimpin perang karena beliau lah
satu-satunya yang memilki keahlian dalam strategi perang, namun beliau
menolak sebab tidak ada perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
kepadanya untuk menjadi pemimpin perang, namun para sahabat memaksanya sebab
tidak ada lagi orang lain yang bisa memimpin peperangan ini kecuali engkau
wahai Khalid, maka sayyidina Khalid pun memegang panji Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan memimpin peperangan dengan strategi perang yang dahsyat
dan sangat hebat, sehingga pasukan Romawi dan para kabilah yang lainnya mulai
mundur dan terpecah belah.
Maka
sayyidina Khalid bin Walid memerintah pasukan muslimin untuk berhenti
memerangi musuh, namun diantara mereka tetap memilih untuk melanjutkan perang
untuk memusnahkan semua pasukan musuh, maka sayyidina Khalid Bin Walid pun
kembali dengan pasukan muslimin yang tersisa. Dan ketiga pemimpin yang wafat
di peperangan tersebut ; sayyidina Zaid bi Haritsah, sayyidina Ja’far bin Abi
Thalib dan sayyidina Abdullah bin Rowahah, mereka dimakamkan di medan Mu’tah.

Saya
pernah berziarah ke medan Mu’tah yaitu sebuah lapangan luas yang di
tengah-tengah lapangan tersebut terdapat Universitas Mu’tah, disampaikan oleh
penduduk di sekitar wilayah Mu’tah bahwa sebelum Universitas tersebut
dibangun, di setiap hari Jum’at selesai shalat Subuh terdengar suara aduan
senjata, dan teriakan-teriakan kesakitan serta suara takbir, dan hal tersebut
terjadi setiap selesai Shalat Subuh di hari Jum’at, hingga setelah
Universitas Mu’tah itu dibangun maka suara itu pun tidak lagi terdengar.
Suara-suara yang menunjukkan kejadian perang Mu’tah itu terus menggema hingga
di zaman ini, padahal kejadian tersebut terjadi pada 14 abad yang silam, hal
ini menunjukkan bahwa lambang dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam tidak akan pernah sirna.
Ketika
peperangan berlangsung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu
sedang duduk bersama para sahabat di Madinah, tiba-tiba beliau terdiam dan
berkata : “Zaid bin Haritsah telah syahid”, lantas beliau shallallahu
‘alaihi wasallam kembali berbicara lalu terdiam dengan raut wajah yang
berubah lantas berkata : “Ja’far bin Abi Thalib telah terkena (syahid)”,
yang mungkin beliau menyaksikan keadaan sayyidina Ja’far ketika wafat, dimana
kepala dan kedua tangannya terpotong dan tubuhnya dipenuhi dengan 99 tancapan
anak panah dan tombak di belakang tubuhnya. Kemudian Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam berkata : “Abdullah bin Rowahah syahid”, lalu beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam dan berkata : “Wa’alaika assalam ya
Ja’far”, mendengar ucapan tersebut para sahabat bertanya : “Apa yang
terjadi wahai Rasulullah ?”, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
menjawab : “Ja’far bin Abi Thalib pamit dan mengucapkan salam kepadaku dan
ia telah diebri dua sayap sebagai ganti dari kedua tangannya yang terpotong,
dan ia sedang dibawa oleh para malaikat untuk menuju surga Allah subhanahu
wata’ala” .
Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
اِصْنَعُوْا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا
“
Buatkanlah untuk keluarga Ja’far makanan”
Sebab
keluarga dan kerabat sayyidina Ja’far berjumlah banyak, agar mereka tidak
disibukkan dengan membuat makanan untuk para tamu yang datang, maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah para shahabat untuk
memasak makanan untuk keluarga sayyidina Ja’far. Hal ini juga merupakan dalil
bahwa acara tahlilan boleh dihidangkan makanan di dalamnya. Dan jika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksud memberikan makanan hanya
untuk keluarga sayyidina Ja’far yaitu hanya untuk istri dan dua anak beliau,
maka pastinya Rasulullah hanya meminta salah satu dari para sahabat atau dari
istri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membuatkna makanan itu, namun
karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa ada banyak
orang yang akan mendatangi keluarga sayyidina Ja’far maka beliau shallallahu
‘alaihi wasallam meminta para sahabat untuk membuatkan makanan untuk keluarga
sayyidina Ja’far, maka hal ini merupakan dalil yang jelas bahwa acara
tahlilan yang dilakukan di zaman ini adalah hal yang diperbolehkan, dan juga
dikarenakan ketika para sahabat datang dan berkumpul di rumah sayyidina
Ja’far mereka tidak berkumpul dan datang untuk berbincang atau bercanda,
namun mereka datang untuk takziyah dan berdzikir atau membaca Al qur’an.
Bahkan
Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menyebutkan bahwa ia menemukan riwayat yang
tsiqah (kuat) bahwa ketika sayyidina Umar bin Khattab Ra dalam keadaan
sakaratul maut, beliau berkata kepada salah seorang sahabat untuk membuatkan
makanan selama tiga hari untuk tamu-tamu yang datang untuk takziyah. Jadi
tahlilan disediakannya makanan oleh keluarga yang telah wafat dalam acara
tahlilan jika mereka adalah orang yang mampu maka hal itu adalah hal yang
baik, namun jika keluarga itu adalah orang yang tidak mampu maka sebaiknya
orang yang datang membawa makanan atau hal lain yang dapat meringankan beban
keluarga yang wafat. Namun memakan makanan yang disediakan dalam acara
tahlilan sama sekali tidak ada larangannya dari Allah subhanahu wata’ala
karena hal demikian juga diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dan para sahabat.
Hadirin
yang dimuliakan Allah, Perang Mu’tah yang terjadi pada bulan Jumadil Awal
tahun 8 H adalah jihad untuk Islam, dan jihad it uterus berlangsung hingga di
zaman ini namun dengan jihad yang berbeda, sebagaimana bentuk ibadah tidak
hanya jihad saja, dan hal yang paling utama bukanlah menyelamatkan ummat dari
gencatan senjata, akan tetapi yang paling utama adalah menyelamatkan ummat
dari api neraka. Oleh sebab itu, kita yang berada di zaman sekarang diantara
jihad kita adalah tabah dan bersabar, jika misalnya seseorang mengajak orang
lain untuk hadir ke majelis ta’lim kemudian ditolak atau diejek dan lainnya
karena memakai pakaian yang islami, maka bersabarlah karena hal itu merupakan
jihad dengan hawa nafsu.
Maka
janganlah disibukkan untuk memikirkan dengan jihad kesana kemari, sebab di
dalam rumah kita sendiri atau bahkan dalam diri kita sendiri banyak hal-hal
munkar yang harus kita perbaikia namun kita membiarkannya. Sebagaimana betapa
banyak ummat Islam yang masih belum melakukan shalat 5 waktu, negeri ini
adalah negara muslimin terbesar, jika demikian keadaan negara Islam terbesar
di dunia, maka bagaimana keadaan negara yang lain, dan begitu banyak juga
ummat Islam yang tidak menunaikan puasa Ramadhan, dan masih banyak ummat
Islam yang belum menunaikan zakat, begitu banyak orang yang terjebak dalam
perbuatan dosa, hal-hal seperti inilah yang seharusnya kita perhatikan,
karena menyelamatkan saudara kita dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala
lebih utama daripada menyelamatkan mereka dalam kehidupan di dunia, namun
bukan berarti kita melupakan saudara-saudara kita yang berada jauh dari kita,
akan tetapi sebaiknya kita memikirkan wilayah dan orang-orang terdekat kita
dari keluarga, kerabat, teman atau tetangga, serta mengajak mereka dalam
keluhuran sebisa mungkin. Seperti mendidik anak kecil untuk mulai melakukan
shalat, dengan membangunkan mereka di waktu subuh hingga ia terbiasa dengan
hal itu, mengajarinya mereka membaca Al qur’an, mengumandangkan adzan dan
lainnya, maka perindahlah rumah dan keluarga kita dengan keluhuran untuk
mendapatkan ridah Allah subhanahu wata’ala, setelah hal-hal demikian
terwujudkan barulah kita beralih memikirkan keadaan di luar wilayah kita.
Sebagaimana
rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah hijrah ke Madinah, beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar dari Madinah untuk berdakwah
menyampaikan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum agama Islam
tersebar dan berjalan baik di Madinah Al Munawwarah.
Syarh
kitab Ar Risalah Al Jaami’ah
Pembahasan
kita dalam kitab Ar Risaalah Al Jaami’ah masih dalam lafadz : وصلى الله على سيدنا محمد , yang lalu telah kita bahas
tentang kalimat “Sayyidina” dan kalimat “Muhammad” shallallahu
‘alaihi wasallam. Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap huruf hijaiyyah
terdapat nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Majelis
yang lalu tentang penjelasan nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
dalam huruf hijaiyah sampai pada huruf syin (ش) yang
diantara nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah شكور : Syakuur (yang banyak bersyukur), kemudian huruf shad (ص) yaitu صبور
: Shabuur ( yang sangat bersabar),
dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling bersabar
dari semua orang yang penyabar, kemudian huruf dhaad (ض) diantaranya adalah ضحى :
Dhuhaa (cahaya pagi), sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَالضُّحَى ، وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى ، مَا وَدَّعَكَ
رَبُّكَ وَمَا قَلَى ، وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى ، وَلَسَوْفَ
يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى ، أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى ، وَوَجَدَكَ
ضَالًّا فَهَدَى ، وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى ، فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا
تَقْهَرْ ، وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ ، وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ
فَحَدِّثْ ( الضحى : 1-11 )
“Demi
waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap gulita),tidaklah
Tuhanmu meninggalkanmu dan tidak (juga) membencimu, dan sesungguhnya
(kehidupan) akhirat lebih baik bagimu dari permulaan (dunia), dan kelak
Tuhanmu pasti memberikan karuniaNya kepadamu hingga (hati) kamu menjadi puas
(ridha), bukankah Dia (Allah) telah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu
Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang tersesat, lalu Dia
memberikan petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan
(fakir), lalu Dia memberikan kecukupan (kepadamu), .Adapun terhadap anak
yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang
meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya, dan terhadap nikmat Tuhanmu
maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. ( QS. AD Dhuha 1-11)
Diantara
ahli tafsir menafsirkan bahwa kalimat الضُّحَى adalah
sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kalimat وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (Demi malam yang gelap gulita)
yang dimaksud adalah keadaan hati sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam yang sedang gelisah dan gundah, karena makna kalimat kegelapan juga
ditafsirkan dengan makna kesedihan atau kegundahan, dimana ketika suatu waktu
nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sedih karena di saat itu
dalam waktu yang lama tidak turun ayat dari Allah subhanahu wata’ala kepada beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas ketika itu ada seorang wanita yang
menghina beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengatakan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah sembuh dari penyakit yang tidak
waras sebab beliau tidak lagi menyampaikan ayat-ayat Al qur’an yang mana
orang-orang kafir menganggapnya sebagai kalimat-kalimat yang aneh, maka
mendengar hal tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sedih
dan mengira bahwa wahyu Allah kepadanya telah terputus, hingga ketika itu
turunlah surat Ad Dhuha.
Dan
sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling
fasih dalam mengucapkan huruf dhaad (ض) .
Kemudian nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari huruf Thaa’ (ط) diantaranya adalah طاهر :
Thaahir ( yang suci), atau ??
: Thaaha, sebagaimana firman Allah
subhanahu wata’ala :
طه
، مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى ( طه : 1-2 )
“Thaahaa,
kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah”. ( QS. Thaaha: 1-2 )
Sebagaimana
banyak para Ulama’ yang berpendapat bahwa Thaaha adalah nama nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam dari huruf Zhaa’ (ظ)
diantaranya adalah ظاهر : Zhaahir (yang tampak/terlihat), yang mana beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam tampak sebelum segala sesuatu tercipta, dimana
makhluk yang pertama diciptakan adalah cahaya sayyidina Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam, dan setelah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan
ke dunia maka beliau pun tampak dan terlihat oleh mata sebagai makhluk yang
paling mulia, dan setelah beliau wafat pun masih banyak orang yang menjumpai
beliau baik dalam keadaaan jaga atau tidur .
Disebutkan
dalam salah satu riwayat Shahih Al Bukhari, bahwa ketika mayat dimasukkan ke
dalam kubur dan semua orang yang mengantarnya ke kuburan telah pulang, maka
ketika itu datanglah dua malaikat yang menanyakan kepada mayyit tersebut akan
pengetahuannya tentang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana
orang yang beriman dan yang shalih akan menjawab :
هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ
وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا هُوَ مُحَمَّدٌ
“ Dia
(adalah) Muhammad utusan Allah, yang datang dengan (membawa) kebenaran dan
petunjuk dan kami menjawab dan mengikutinya, dia adalah Muhammad”
Maka
malaikat pun berkata :
نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوْقِنًا بِهِ
“
Tidurlah dengan tenang, kami telah mengetahui bahwa engkau meyakininya
(beriman kepadanya)”.
Demikian
meskipun telah berada di alam barzakh namun manusia masih akan dipertanyakan
tentang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kelak di hari kiamat,
tidak ada yang paling tampak dan terlihat dari semua makhluk Allah subhanahu
wata’ala kecuali sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian
nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diawali dengan huruf
‘ain (ع) diantaranya adalah عين :
‘ain (yang paling dicintai) sebagaimana diantara maknanya adalah mata, dimana
mata adalah hal yang paling dicintai, dan memiliki makna yang lain yang
insyallallah akan kita lanjutkan pada majelis yang akan datang.
Selanjutnya
kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah melimpahkan
kepada kita rahmat dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan senantiasa
menuntun kita pada keluhuran dalam melewati hari-hari kita, dan selalu dalam
naungan nama Allah subhanahu wata’ala, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا
جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah
bersama-sama
يَا
الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ
إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ
اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ
الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا
نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
|
No comments :
Post a Comment